Thursday, September 24, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Peningkatan Pasokan Minim, Harga Ayam di Sumut Diprediksi Masih Mahal

Mistar.idSelasa, 22 September 2026 pukul 20.34 WIB
peningkatan_pasokan_minim_harga_ayam_di_sumut_diprediksi_masih_mahal

Penjual ayam di salah satu pasar Kota Medan. (foto: Amita/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Harga daging ayam potong di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan, diproyeksikan masih bertahan tinggi dalam satu bulan ke depan. Minimnya peningkatan pasokan ayam hidup menjadi salah satu faktor yang membuat harga belum memiliki ruang untuk turun.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan persoalan pasokan berada di tingkat hulu. Penambahan jumlah ayam hidup tidak dapat dilakukan secara cepat untuk mengimbangi kebutuhan pasar.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga daging ayam di Sumatera Utara mencapai Rp50.550 per kilogram (kg) pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Sementara itu, harga ayam di sejumlah pasar tradisional Kota Medan berada pada kisaran Rp46.000 hingga Rp48.000 per kg.

"Saya memproyeksikan, satu bulan ke depan harga daging ayam masih stabil. Tidak akan berubah seiring dengan harapan pasokan yang stabil dan juga diimbangi dengan permintaan yang cenderung stagnan. Belum ada peluang harga akan turun," kata Gunawan, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, harga daging ayam telah mengalami kenaikan sejak awal 2026. Tingginya konsumsi membuat permintaan tetap kuat, sementara peningkatan pasokan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat karena membutuhkan proses pembibitan yang panjang.

Gunawan menjelaskan, penambahan pasokan ayam di tingkat peternak berkaitan dengan ketersediaan Grand Parent Stock (GPS) yang menghasilkan bibit ayam atau Day Old Chicken (DOC). Proses tersebut membutuhkan waktu sehingga peningkatan pasokan ayam hidup tidak bisa langsung merespons kenaikan permintaan di pasar.

Kondisi itu membuat keluhan masyarakat mengenai sulitnya mendapatkan daging ayam dengan harga di bawah Rp40.000 per kg masih berpotensi berlanjut.

Di sisi lain, kenaikan biaya operasional peternak juga menjadi faktor yang dapat menahan harga tetap tinggi. Bahkan, menurut Gunawan, kondisi tersebut masih membuka peluang terjadinya kenaikan harga apabila biaya produksi terus meningkat.

"Saya yakin, masalah ini sudah didengar pemerintah. Jika pengadaan GPS dilakukan di 2026 ini, maka potensi bertambahnya pasokan daging ayam mungkin baru terjadi tahun depan. Meski demikian, harga daging ayam tetap berpeluang naik, salah satunya imbas pakan yang juga butuh kalibrasi antara permintaan dan produksi bahan pakan," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Gunawan menilai harga ayam di Sumatera Utara belum menunjukkan peluang penurunan dalam waktu dekat. Tambahan pasokan yang lebih besar baru berpotensi terasa setelah proses pembibitan dan produksi ayam berjalan. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN