NTP Sumut Naik ke 157,16 Pada Maret 2026

Petani saat memanen semangka. (Foto: Damanik/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Daya beli petani di Sumatra Utara (Sumut) menunjukkan penguatan signifikan pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Sumut mencapai 157,16, naik 1,90 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 154,23.
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, menjelaskan kenaikan ini dipicu oleh pertumbuhan positif di seluruh subsektor pertanian. Peningkatan tertinggi terjadi pada subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yang melonjak 2,72 persen.
"Kenaikan NTP Maret 2026 disebabkan oleh naiknya seluruh subsektor, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat, peternakan, hingga perikanan," kata Asim, Senin (6/4/2026).
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai lonjakan NTP, khususnya di sektor perkebunan, tidak terlepas dari memanasnya konflik antara Iran dengan AS/Israel.
Perang tersebut telah melambungkan harga minyak mentah dunia, yang secara otomatis menarik naik harga kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO).
"Harga CPO melonjak tajam dari kisaran 3.890 Ringgit Malaysia per ton hingga menyentuh level 4.850-an Ringgit pada akhir Maret. Ini menjadi pendorong utama mengapa petani perkebunan kita mengalami kenaikan pendapatan yang signifikan," ucap Gunawan.
Meski saat ini petani menikmati kenaikan harga jual (Indeks yang Diterima/It), Gunawan memperingatkan adanya ancaman serius dalam jangka panjang. Penutupan Jalur Selat Hormuz akibat eskalasi perang berpotensi mengganggu pasokan energi dan bahan baku global.
Potensi risiko yang membayangi petani, yaitu kenaikan harga minyak mentah akan mengerek biaya produksi pupuk, Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal berpeluang melonjak, yang pada akhirnya dapat menggerus daya beli (NTP) itu sendiri.
Kemudian, kenaikan Harga Pokok Produksi (HPP) akan memaksa harga barang di pasar naik, terlepas dari kondisi permintaan dan penawaran (supply and demand).
"Jika harga pupuk naik drastis, maka Indeks yang Dibayar Petani (Ib) akan membengkak. Hal ini bisa memakan margin keuntungan petani dan membuat NTP kembali tertekan di masa mendatang," ujar Gunawan.
Meskipun Sumut alami deflasi bulanan sebesar 0,13 persen, penguatan NTP ini menunjukkan bahwa sektor hulu (pertanian) masih menjadi bantalan ekonomi yang kuat.
Namun, sinergi kebijakan pemerintah sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas harga input pertanian (seperti pupuk dan pakan) agar kesejahteraan petani tidak tergerus oleh volatilitas global. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Harga Emas Antam Turun Rp26 Ribu, Buyback Ikut Melemah





















