Minyakita Langka di Medan, Bulog Sumut Pertanyakan Alokasi 65 Persen Produksi Pabrikan

Pimpinan Wilayah Bulog Sumut, Budi Cahyanto. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kelangkaan Minyakita di Medan memicu sorotan Perum Bulog Kanwil Sumatera Utara (Sumut) terhadap distribusi produksi. Bulog mempertanyakan ke mana alokasi 65 persen produksi pabrikan yang dinilai tidak terlihat di pasar lokal.
Sebagai salah satu provinsi produsen minyak sawit terbesar, Sumut seharusnya tidak mengalami defisit stok minyak goreng bersubsidi tersebut.
Pimpinan Wilayah Bulog Sumut, Budi Cahyanto, mengatakan adanya ketimpangan antara jumlah produksi dan distribusi di pasar umum yang perlu segera ditelusuri bersama para produsen.
Budi menjelaskan Bulog hanya menyerap kurang dari 35 persen dari total produksi Minyakita untuk kebutuhan komersial dan bantuan pangan. Ia mempertanyakan keberadaan sisa stok yang seharusnya membanjiri pasar lokal.
"Pertanyaannya, 65 persen sisanya ini ke mana? Sumut ini salah satu provinsi terbesar produksi Minyakita. Bisa jadi stoknya didistribusikan ke wilayah lain, sementara untuk Sumut sendiri justru kekurangan. Inilah yang perlu kita rundingkan kembali dengan para produsen," kata Budi, Jumat (24/4/2026).
Meski ada isu kelangkaan, Bulog Sumut mengklaim terus mengguyur pasar dengan pasokan reguler. Dalam periode tiga bulan terakhir, Bulog telah menyalurkan hampir 6 juta liter Minyakita komersial.
Rata-rata distribusi sekitar 2 juta liter per bulan atau 80.000 liter per hari. Bantuan pangan tahun ini ditargetkan sebanyak 7 juta liter, di mana 1,5 juta liter di antaranya sudah sampai ke tangan masyarakat.
Budi menegaskan bahwa fokus utama Bulog saat ini adalah memastikan bantuan pangan minyak goreng gratis tersalurkan dengan dukungan pemerintah kabupaten/kota.
Di tengah isu kelangkaan, Budi memastikan bahwa harga jual dari Bulog tidak mengalami kenaikan. Bulog tetap mengikuti skema harga yang ketat agar sampai ke konsumen sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
"Bulog mengambil dari pabrikan Rp13.500, kami jual ke pengecer Rp14.500. Pengecer wajib menjual ke masyarakat maksimal Rp15.700 per liter. Tidak boleh lebih dari itu," ucapnya.
Namun, Budi mencatat adanya tantangan baru dari sisi produksi, yakni wacana kenaikan harga biji plastik yang digunakan untuk kemasan. Ia berencana melakukan klarifikasi kepada produsen apakah kendala kemasan ini menjadi penyebab tersendatnya distribusi Minyakita di pasar umum.
Langkah antisipasi Bulog Sumut adalah mempercepat penyaluran bantuan minyak goreng gratis, mengajak Pemerintah Provinsi untuk mengumpulkan para produsen guna menemukan penyebab kelangkaan, serta memastikan mitra pengecer Bulog tetap menjual di harga Rp15.700 per liter.
"Seharusnya, walaupun Bulog menyerap 7 juta liter untuk bantuan pangan, stok di Sumatera Utara tidak boleh kekurangan. Kita akan duduk bersama untuk mencari solusinya," ujar Budi. (hm25)
BERITA TERPOPULER















