Kisah Sri Lena Maharani, Ibu Rumah Tangga yang Sukses Bangun Usaha Ayam Pecak Bermodal Rp500 Ribu

Ayam Pecak AQ Bintang yang berlokasi sederhana, di Jalan Farel Pasaribu No. 47 (foto:abdi/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (1/8/2026)-Modal kecil, semangat besar inilah kisah Sri Lena Maharani, atau Rani, ibu rumah tangga asal Pematangsiantar yang kini dikenal sebagai pemilik Ayam Pecak AQ Bintang.
Lokasinya sederhana, di Jalan Farel Pasaribu No. 47. Tapi dari tempat inilah, Rani membuktikan bahwa tekad bisa mengalahkan keterbatasan.
Tiga tahun lalu, usahanya dimulai dari dapur rumah. Rani tak langsung meracik ayam pecak, ia menawarkan bermacam kue. Awalnya mulai dari kue ulang tahun, pizza rumahan, sampai jajanan pasar seperti serabi, lupis, dan cenil. Semuanya ia titipkan dari satu warung ke warung lain.
Tapi hidup makin sulit, dan Rani terdesak. Saat banyak pelaku UMKM mengejar Kredit Usaha Rakyat di bank, Rani justru memilih cara lain. Ia meminjam Rp 500 ribu dari teman dan keluarga.
“Saya nekat waktu itu. Modal segitu, saya langsung ambil kontrakan kecil untuk jualan ayam pecak,” kenangnya saat bercerita kepada Mistar.id Sabtu (1/8/2026).
Langkah nekad itu ternyata jadi titik balik. Pelanggan berdatangan, sambutan orang luar biasa. Menu yang tadinya cuma satu sekarang berkembang jadi sekitar 40 variasi. Dari puluhan sampai ratusan porsi ia bikin setiap hari, semuanya habis terjual.
Tak ada yang instan. Rani tahu persaingan di dunia kuliner Pematangsiantar sengit. Ia nggak punya latar belakang pendidikan memasak, jadi semua ia pelajari sendiri.
YouTube dan layar ponsel jadi guru utamanya. Setiap kali punya kesempatan keluar kota, ia sempatkan mampir ke rumah makan lain, mencicipi, mengamati, dan belajar langsung dari cara mereka menyajikan makanan.
Buat Rani, masak bukan cuma soal bumbu dan teknik. Lebih dari itu, butuh perhatian sama detail, kebersihan, kualitas bahan, dan keramahan ke setiap pelanggan.
“Membuat makanan itu bisa saja mudah. Tapi untuk bikin rasa yang orang ingat terus, itu butuh usaha. Kami benar-benar jaga kualitas, kebersihan, dan juga pelayanan,” katanya.
Hasilnya sekarang tampak nyata. Dari dapur kecil itu, Rani bisa menghidupi keluarganya, bahkan membiayai sekolah anak-anaknya sampai jenjang tinggi. Ia bersyukur, tapi tak lupa berharap UMKM lain juga dapat dukungan.
“Kami butuh perhatian nyata dari pemerintah, apalagi soal promosi dan tempat untuk pameran supaya UMKM di Pematangsiantar makin maju,” harap Rani.
Cerita Sri Lena Maharani ini jadi bukti terang modal tipis bukan penghalang. Dengan keberanian, konsistensi, dan semangat belajar, dapur yang sederhana pun bisa jadi titik balik hidup keluarga. (*)





















