Wednesday, August 5, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Inflasi Sumut Diperkirakan Berlanjut, Pengamat: Isu Gaji ASN Berpotensi Tekan Keuangan Rumah Tangga

Mistar.idRabu, 5 Agustus 2026 pukul 10.52 WIB
inflasi_sumut_diperkirakan_berlanjut_pengamat_isu_gaji_asn_berpotensi_tekan_keuangan_rumah_tangga

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin. (Foto: Amita/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Inflasi di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) diproyeksikan akan berlanjut sepanjang Agustus 2026. Hal ini disampaikan Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, terdapat kemungkinan pergerakan harga sejumlah kebutuhan pokok pada Agustus ini masih dapat menjadi penggerak inflasi di Sumut.

"Harga daging ayam masih bisa menjadi andil inflasi. Kenaikan harganya sudah berlangsung sejak pertengahan Juli, diproyeksikan akan bertahan mahal sekitar Rp38.000 hingga Rp40.000 per kilogram (kg) selama Agustus. Begitu juga telur ayam yang berpeluang menyumbang andil inflasi di Agustus ini," kata Gunawan, Rabu (5/8/2026).

Selain daging ayam dan telur ayam yang berpotensi naik, terdapat juga minyak goreng yang diperkirakan mengalami kenaikan biaya input produksi sejalan dengan harga minyak mentah dunia yang meningkat.

Diikuti dengan gula pasir yang diproyeksikan akan mengalami kenaikan karena musim panen yang berakhir dan harga pokok produksi akhir tahun yang meningkat. Sedangkan beras diproyeksikan stabil karena kenaikan harga berpeluang terhenti pada bulan ini.

Gunawan juga memperingatkan jika tekanan harga dapat lebih parah apabila wilayah di luar Sumut mengalami masalah gagal panen atau penurunan produksi akibat cuaca El Nino.

Meskipun Sumut relatif aman dari gangguan cuaca tersebut, hukum ekonomi tetap berlaku. Tetap terjadi disparitas harga antarwilayah yang akan berdampak ke Sumut ketika pasar mencari titik keseimbangan baru atau melalui mekanisme tarik pasokan ke luar daerah.

Di tengah ancaman inflasi ini, muncul isu terkait tersendatnya pembayaran gaji ASN di sejumlah daerah di Indonesia. Gunawan menilai kenaikan harga barang dan keterlambatan pembayaran gaji ini dapat menjadi "bom waktu" bagi perekonomian rumah tangga.

"Jika wilayah tersebut mengalami kenaikan harga karena faktor seperti El Nino, maka laju inflasi akan berpeluang menciptakan arus kas negatif pada keuangan rumah tangga. Khususnya ASN yang daerahnya mengalami kesulitan atau keterlambatan dalam membayar gaji," ucap Gunawan.

Menyikapi proyeksi tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diimbau agar dapat bekerja lebih ekstra dan optimal dalam memastikan ketersediaan pasokan serta kelancaran distribusi barang guna menjaga daya beli masyarakat selama Agustus ini.

Seperti diketahui, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Sumut mengalami inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,19 persen pada Juli lalu. Faktor utama inflasi tersebut adalah harga cabai rawit, beras, hingga tomat yang mengalami kenaikan. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN