IHSG Terpuruk, Pelemahan Terdalam di Kawasan Asia Pasifik

IHSG. (PNN)
Jakarta, MISTAR.ID
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia semakin terlihat setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi bursa dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia Pasifik pada perdagangan Kamis (21/5/2026).
Saat mayoritas indeks regional bergerak menguat, pasar saham domestik justru terkoreksi tajam hingga lebih dari 3 persen.
IHSG ditutup melemah 3,44 persen ke posisi 6.102,63. Padahal pada awal perdagangan, indeks sempat berada di level 6.378,81 sebelum akhirnya terus bergerak di zona merah sepanjang hari.
Kondisi itu membuat bursa Indonesia menjadi satu-satunya pasar saham utama di Asia yang mengalami penurunan saat sentimen global justru cenderung positif. Penguatan bursa regional dipicu optimisme investor setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa negosiasi akhir terkait konflik dengan Iran tengah berlangsung.
Sejumlah indeks saham Asia pun bergerak naik. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 3,54 persen, sementara Kospi Korea Selatan menguat hingga 7 persen pada awal sesi perdagangan. Bursa Australia, China, dan Hong Kong juga mencatat kenaikan.
Di tengah penguatan regional tersebut, pasar saham Indonesia justru dibayangi sentimen domestik dan aksi penyesuaian portofolio investor global menyusul perubahan komposisi indeks milik MSCI.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan, Hasan Fawzi, mengatakan tekanan pada sejumlah saham besar berkaitan dengan proses rebalancing indeks MSCI yang berdampak pada emiten Indonesia.
“Kalau kemarin memang kami mengonfirmasi ada korelasi betul dengan dampak dari rebalancing atau pengumuman MSCI,” ujar Hasan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026), dilansir dari detikfinance.
Menurut dia, saham-saham yang sebelumnya masuk dalam indeks MSCI Standard maupun Small Cap mulai mengalami tekanan karena adanya kewajiban penyesuaian portofolio oleh ETF dan reksa dana pasif yang mengikuti indeks global tersebut.
Hasan menyebut kondisi ini berpotensi berlanjut hingga perubahan komposisi indeks resmi berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Ia menilai kemungkinan arus dana asing keluar atau net outflow masih cukup besar karena sudah menjadi ekspektasi pasar.
“Nanti kita lihat apakah net-nya nanti akan ada net outflow atau net inflow dalam hal ini. Mungkin dan memang sepertinya sudah di persepsi pasar, besar kemungkinan tetap pada akhirnya akan ada sebagian net outflow dimaksud,” katanya.
Selain faktor MSCI, pelaku pasar juga merespons kebijakan pemerintah terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis melalui BUMN. Menurut Hasan, perubahan kebijakan tersebut mendorong investor melakukan penyesuaian strategi investasi.
Meski demikian, ia menilai dampak sentimen tersebut kemungkinan hanya berlangsung sementara. OJK berharap pemerintah dapat memberikan rincian implementasi kebijakan agar pasar memperoleh kepastian lebih jelas.
“Saya kira pasti ya. Artinya, itu pasti direspons secara jangka pendek,” ujarnya.
Hasan menambahkan koreksi tajam hanya terjadi pada saham-saham tertentu yang terdampak langsung perubahan indeks MSCI. Sementara sebagian besar saham lain memang melemah, namun masih berada dalam batas wajar dan tidak seluruhnya menyentuh level Auto Reject Bawah (ARB). (hm20)
NEXT ARTICLE
Harga Emas Dunia Kembali Menguat























