Wednesday, July 1, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Hasil Survei: Bank Sentral di Dunia Mulai Tinggalkan Dolar AS

Mistar.idRabu, 1 Juli 2026 pukul 09.39 WIB
hasil_survei_bank_sentral_di_dunia_mulai_tinggalkan_dolar_as

Dolar AS. (Foto: fsf.co.id)

news_banner

London, MISTAR.ID - Laporan dari lembaga yang berbasis di London, Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF), menyebutkan banyak bank sentral di dunia yang mengurangi alokasi aset dolar AS dalam sepuluh tahun mendatang.

Survei menyoroti langkah mitigasi dari para investor publik terhadap risiko politik dolar AS. Jajak pendapat ini menyasar institusi-institusi raksasa pengelola dana publik, mulai dari bank sentral, dana pensiun publik, serta dana kekayaan negara.

Sebagai catatan, responden OMFIF menguasai total dana kelolaan hingga US$10 triliun. Para pengelola aset sepakat mulai menguji sejumlah pendekatan baru. Salah satu instrumen yang kini ramai dimanfaatkan untuk navigasi risiko adalah teknologi AI.

"Asumsi lama bahwa investor publik bisa menunggu hingga kondisi kembali normal kini terlihat semakin tidak realistis," tulis Ekonom Senior OMFIF, Yara Aziz, dilansir dari CNN Indonesia, Rabu (1/7/2026).

Hingga kini belum ada alternatif yang benar-benar mampu menggantikan dolar AS. Mata uang tersebut bahkan menguat sekitar 3 persen sepanjang tahun ini, didorong oleh suku bunga AS yang lebih tinggi, tingginya minat terhadap aset-aset AS, serta arus investasi ke aset aman akibat perang AS-Iran.

Namun, sekitar 79 persen bank sentral dan 60 persen dana publik meyakini sistem moneter global sedang bergerak menuju dunia yang lebih 'multipolar'.

Mata uang di luar delapan mata uang utama dunia perlahan mulai memperoleh porsi lebih besar dalam cadangan devisa. Bank sentral tercatat meningkatkan alokasi terhadap krone Norwegia dan dolar Selandia Baru, serta menunjukkan minat yang lebih besar terhadap poundsterling Inggris.

Meski responden juga mempertahankan rencana untuk menambah kepemilikan euro dan yuan China, mereka menilai kedua mata uang tersebut masih menghadapi tantangan struktural yang menghambat perannya.

Meski demikian, hampir seluruh responden menganggap yuan sebagai instrumen diversifikasi portofolio yang efektif.

Sementara itu, emas yang telah mencetak serangkaian rekor harga tertinggi dan kini dimiliki oleh 82 persen bank sentral, dinilai telah menjadi pusat strategi pengelolaan cadangan devisa.

Dalam jangka pendek, emas menjadi aset yang paling banyak direncanakan untuk ditambah kepemilikannya oleh bank sentral. Secara neto, 30 persen responden berencana meningkatkan alokasi emas dalam satu hingga dua tahun mendatang.

Ini merupakan pertama kalinya survei yang dilakukan OMFIF menunjukkan pergeseran minat bank sentral global terhadap dolar AS.

Temuan OMFIF tersebut sejalan dengan perdebatan global mengenai peran dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia, yang dipicu oleh ketidakpastian kebijakan AS dan meningkatnya risiko geopolitik.

Di kalangan dana publik, permintaan terhadap aset fisik seperti infrastruktur dan properti melampaui kelas aset lainnya. Hampir 60 persen responden berencana meningkatkan alokasi ke sektor tersebut dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Survei juga menunjukkan perubahan persepsi terhadap pasar negara berkembang. Sebanyak 38 persen dana publik global berencana meningkatkan investasi di negara berkembang, naik dari 27 persen pada tahun lalu.

Minat untuk meningkatkan investasi di pasar negara berkembang kini melampaui minat untuk menambah investasi di negara maju, yang turun menjadi 25 persen dari 47 persen pada tahun sebelumnya.

Menurut survei tersebut, pasar yang paling menarik bagi investor publik tetap Amerika Serikat dan China, sebagian karena peran kedua negara tersebut dalam ledakan perkembangan teknologi AI. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN