Ekonom UISU: Lonjakan Inflasi Baru Dimulai, Harga Pangan Terancam Naik

Pengamat Ekonomi UISU, Gunawan Benjamin. (foto: istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Laju tekanan inflasi nasional diproyeksikan akan mengalami lonjakan yang cukup signifikan pada periode Mei 2026. Pergerakan angka inflasi yang terus merangkak naik diprediksi bakal membuat tata kelola dan upaya pengendalian ekonomi di sisa tahun ini menjadi jauh lebih rumit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan kalkulasi data makro, laju tekanan inflasi nasional secara tahunan (year-on-year/YoY) diproyeksikan meroket mendekati angka 2,92 persen di bulan Mei.
Realisasi ini dinilai mengkhawatirkan karena posisinya sudah semakin mepet dengan batas atas target sasaran yang ditetapkan Bank Indonesia (BI), yakni di level 3,5 persen.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, memprediksi tren kenaikan inflasi ini belum akan berhenti dalam waktu dekat, dan masih akan terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan akibat efek domino dari depresiasi mata uang domestik.
Gunawan mengatakan dampak buruk dari pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang terjadi belakangan ini memang belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat di sektor hilir komoditas pangan pokok. Namun, bom waktu inflasi tersebut dipastikan mulai merembet ke sektor hulu produksi pertanian pada bulan Juni.
"Saya menghitung transmisi dari pelemahan Rupiah ini akan mulai dirasakan nyata pada produk pertanian dalam bentuk lonjakan Harga Pokok Produksi (HPP) pada bulan Juni. Pelemahan Rupiah secara langsung telah mendongkrak kenaikan harga sejumlah komponen input produksi yang masih bergantung pada bahan baku impor," ujarnya, Senin (1/6/2026).
Beberapa komponen biaya input pertanian yang terpantau merangkak naik antara lain harga pupuk non subsidi, plastik mulsa, pestisida, serta herbisida. Kemudian, upah atau gaji buruh tani yang mulai menyesuaikan dengan biaya hidup, serta pembengkakan pada ongkos logistik angkutan barang.
Meski harga pangan pokok lokal belum sepenuhnya bergejolak, penyesuaian harga akibat penguatan Dolar AS sudah lebih dulu terjadi pada komoditas pangan olahan yang berbasis bahan baku impor, seperti tahu dan tempe. Para produsen menyiasatinya lewat kenaikan harga jual maupun memperkecil ukuran produk.
Gunawan mengingatkan tantangan pengendalian inflasi ke depan akan semakin berat karena Indonesia harus berhadapan dengan fenomena iklim ekstrem, yakni Godzilla El Nino. Fenomena cuaca panas ekstrem ini berpotensi besar memicu gagal panen massal, serta menekan produktivitas lahan pertanian nasional secara drastis.
Di sisi lain, masyarakat sudah lebih dulu dihantam oleh kenaikan harga barang-barang kebutuhan rumah tangga non-pangan produksi industri manufaktur yang cepat merespons pelemahan kurs.
"Pelemahan Rupiah sejauh ini sudah ditransformasikan pada kenaikan harga kebutuhan harian manufaktur. Mulai dari kebutuhan kamar mandi, sabun cuci pakaian, hingga produk sanitasi seperti pembalut dan popok bayi. Kebutuhan sekunder ini sudah naik duluan sebelum pangan pokok ikut melonjak," ucapnya.
Melihat rentetan ancaman yang sudah di depan mata, Gunawan mendesak pemerintah untuk segera merumuskan langkah mitigasi kebijakan yang taktis guna meredam potensi lonjakan harga ekstrem demi melindungi daya beli masyarakat.
Pemerintah pusat maupun daerah diminta untuk mulai menumpuk dan mempertebal stok cadangan pasokan untuk komoditas pangan penting guna meminimalisir dampak buruk dari faktor alam (El Nino), serta ketidakpastian eskalasi geopolitik dunia.
"Program bantuan sosial (bansos) pangan yang digulirkan pemerintah memang bisa menjadi bemper darurat bagi masyarakat miskin agar terselamatkan dari hantaman inflasi. Namun potensi lonjakan inflasi ke depan tetap berpeluang besar menurunkan kemampuan beli masyarakat secara agregat dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka," tuturnya.





















