Tuesday, June 23, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Inflasi Sumut April 2026 Capai 0,44 Persen, Pengamat Ingatkan Ancaman Cost Push

Mistar.idRabu, 6 Mei 2026 pukul 16.41 WIB
inflasi_sumut_april_2026_capai_044_persen_pengamat_ingatkan_ancaman_cost_push

Pengamat Ekonomi UISU, Gunawan Benjamin. (Foto: istimewa)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Realisasi inflasi Sumatera Utara pada April 2026 yang mencapai 0,44 persen (month to month/mtm) menjadi sinyal waspada bagi perekonomian daerah. Angka ini tercatat jauh lebih tinggi dari proyeksi awal para analis dan berada di atas rata-rata nasional.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, memperingatkan bahwa Sumatera Utara kini tengah menghadapi ancaman cost push inflation (inflasi akibat kenaikan biaya produksi) yang sulit dibendung hanya dengan intervensi pasar biasa.

Berdasarkan data April, kontribusi terbesar inflasi Sumut berasal dari harga tiket pesawat sebesar 0,13 persen. Meski tiket pesawat diprediksi akan menyumbang deflasi pada Mei berkat pembebasan PPN kelas ekonomi, fokus perhatian kini beralih ke komoditas pangan.

“Fokus ke depan adalah tren kenaikan harga cabai yang berpotensi naik paling besar. Selain itu, harga daging ayam juga berpeluang meningkat setelah siklus lonjakan pasokan yang tinggi pada April berakhir,” kata Gunawan, Rabu (6/5/2026).

Gunawan menekankan bahwa konflik Iran–AS yang masih berlangsung telah mendorong kenaikan Harga Pokok Produksi (HPP) secara masif. Pelemahan rupiah dan kenaikan harga plastik pembungkus menjadi beban berat bagi industri rumah tangga.

“Saat ini sebagian beban kenaikan biaya produksi masih ditanggung produsen. Mereka menyiasatinya dengan menahan harga, tetapi mengurangi kuantitas. Namun, ini adalah bom waktu, karena produsen tidak akan mampu menahan beban kenaikan harga dalam jangka panjang,” ucapnya.

Menyikapi potensi inflasi pada Mei dan Juni mendatang, Gunawan menyarankan pemerintah untuk berhati-hati dalam melakukan pengendalian harga.

Ia menegaskan, inflasi saat ini lebih dipicu oleh kenaikan biaya (cost push), bukan karena lonjakan permintaan (demand).

“Menekan harga di level konsumen harus mempertimbangkan potensi kerugian petani dan peternak. Jika harga ditekan terlalu rendah tanpa melihat harga keekonomian, produsen yang akan terdampak,” ujarnya.

Secara realistis, Gunawan menilai bahwa sebaik apa pun upaya pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah, daya beli masyarakat Sumatera Utara tetap akan mengalami tekanan.

“Masyarakat tidak punya banyak pilihan, inflasi akan tetap terjadi. Harapannya, inflasi yang meningkat hanya mencerminkan harga keekonomian. Namun, kondisi ini tetap akan menekan daya beli masyarakat secara nyata,” tuturnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN