Inflasi di Sumut Diprediksi Tembus 0,6 Persen Selama Mei 2026

Pedagang kebutuhan pokok di pasar tradisional Kota Medan. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Provinsi Sumatera Utara (Sumut) diprediksi masuk ke dalam zona merah karena ancaman lonjakan inflasi sepanjang Mei 2026. Berdasarkan hasil tabulasi data harga riil di pasar tradisional, mayoritas komoditas kebutuhan pokok pangan dan barang manufaktur harian kompak bergerak naik secara agresif.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan laju tekanan inflasi di Sumut secara bulanan (month-to-month/MtM) dapat menembus angka di atas 0,6 persen untuk periode Mei.
Gunawan merinci, hampir seluruh lini kebutuhan dapur masyarakat mengalami kenaikan harga bulanan yang sangat signifikan. Komoditas hortikultura menjadi motor utama pemicu pembengkakan biaya belanja rumah tangga.
Adapun persentase kenaikan harga sejumlah komoditas pangan utama di Sumut selama Mei, seperti cabai rawit naik 38 hingga 53 persen, cabai merah melonjak 37 hingga 47 persen, dan bawang merah naik 10,5 persen.
Tomat meroket 62 persen, bayam naik 54 persen, kacang panjang naik 30,7 persen, kangkung naik 18 persen, dan wortel naik 15 persen. Tempe naik 20 persen, daging sapi naik 3 persen, dan kentang naik 2,3 persen.
Tidak berhenti pada sektor pangan, pelemahan nilai tukar rupiah juga sukses mentransmisikan kenaikan harga pada produk-produk manufaktur kebutuhan harian serta energi.
Komoditas non-pangan seperti pembalut wanita, popok bayi, sabun mandi, sampo, deterjen, pasta gigi, kopi bubuk, air kemasan, ikan teri, lontong, hingga harga BBM non-subsidi dan gas Elpiji 12 kg ikut kompak merangkak naik.
Gunawan mencatat masih ada beberapa komoditas penting yang bergerak anomali dengan membukukan penurunan harga (deflasi), sehingga sedikit menjadi penyeimbang di pasar lokal.
Komoditas yang mengalami penurunan harga, meliputi daging ayam ras turun sekitar 9 persen dan telur ayam menyusut 3 persen.
Ikan tongkol dan ikan gembung turun 17 persen, serta ikan dencis turun 5 persen. Sawi hijau turun 9 persen, jeruk manis turun 5,2 persen, kelapa turun 7 persen, minyak goreng curah dan gula pasir turun tipis di kisaran 1 persen. Kemudian emas perhiasan susut 6 persen, hingga tarif tiket pesawat.
Gunawan memaparkan bahwa ledakan inflasi Mei di Sumut sejatinya telah diproyeksikan jauh hari. Pemicunya didominasi oleh kebijakan harga yang diatur pemerintah (administered prices), kenaikan harga bahan baku plastik, serta dampak langsung dari pelemahan kurs rupiah terhadap ongkos impor.
Celakanya, potensi ledakan harga pangan ini diprediksi masih berpeluang besar berlanjut pada bulan Juni dan bulan-bulan berikutnya akibat ancaman multi-krisis yang datang bersamaan.
"Kenaikan inflasi ke depan masih dibayangi tekanan Rupiah, ketidakpastian geopolitik global, kenaikan harga minyak mentah dunia, pembengkakan biaya logistik, hingga lompatan biaya produksi yang menaikkan Harga Pokok Produksi (HPP) petani. Sisi pasokan (supply) harus diselamatkan sesegera mungkin oleh pemerintah melalui mitigasi yang serius," kata Gunawan, Selasa (2/6/2026).
Pemerintah daerah dinilai akan sangat kesulitan jika harus mengintervensi variabel eksternal seperti harga bahan baku global atau cuaca buruk akibat fenomena Godzilla El Nino. Oleh sebab itu, fokus mitigasi wajib diarahkan pada pembenahan tata kelola stok lokal.
"Masalah baru akan kembali muncul jika disparitas harga kebutuhan masyarakat Sumut memiliki jarak (gap) yang terlalu lebar dengan provinsi tetangga. Sumut mau tidak mau akan ikut terseret dalam pusaran kenaikan harga regional, meskipun dari sisi dampak cuaca buruk El Nino, wilayah kita diproyeksikan tidak akan seburuk wilayah lain di Indonesia," ucapnya. (hm20)






















