Monday, June 29, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Catatan Taktis INALUM Menjaga Masa Depan Hidrologi dan Hayati Sumatera Utara

Mistar.idSenin, 29 Juni 2026 pukul 10.00 WIB
catatan_taktis_inalum_menjaga_masa_depan_hidrologi_dan_hayati_sumatera_utara

Aluminium yang dihasilkan INALUM sebesar 275 ribu ton / tahun berasal dari energi hijau sebagai konsistensi jaga masa depan hidrologi dan hayati. (Foto: Dokumentasi INALUM/Mistar)

news_banner

Asahan, MISTAR.ID - Bagi sebagian orang, industri ekstraktif dan pengolahan logam selalu identik dengan cerobong asap dan lanskap tanah yang terkoyak. Namun, di Paritohan tepat di titik operasional PLTA Siguragura dan PLTA Tangga milik Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), narasi konvensional itu terpatahkan.

Disini, industri modern justru berutang budi pada heningnya hutan di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba. INALUM menjadikan air sebagai bahan bakar utama untuk pembangkit listrik berkapasitas 603 Megawatt (MW) untuk menghasilkan aluminum bersih.

Sadar akan risiko bencana di sekitar daratan tinggi Toba seperti longsor, erosi serta sedimintasi lumpur yang bisa saja melumpuhkan turbin pembangkit, INALUM memiliki strategi yang taktis untuk terus mendorong pendekatan konservatif preventif yang masif, bukan hanya memikirkan pemulihan kerusahan pascaproduksi.

Berdasarkan data perusahaan, terdapat grafik agresif penghijauan berupa 400 hektar lahan kritis pada periode 2018 hingga 2020 dan meningkat menjadi 370 hektar pada 2025 serta capai target 500 hektar per tahun pada periode 2024-2025. Kini, 2.304 hektar lahan kritis kembali menjadi hutan.

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Direktur Strategic Support & Human INALUM, Benny Wiwoho dalam keterangan resminya yang dikutip Mistar pada Senin (29/6/2026) melalui handbook In Journal INALUM.

“Konservasi merupakan bagian penting dari komitmen INALUM dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan. Melalui berbagai program pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, kami berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang,” ujar Benny.

Dijelaskan, adapun pembibitan modern di Paritohan jadi akselerasinya. Ada 500 ribu bibit per tahun diciptakan di Kebun Bibit Rakyat (KBR) dengan melibatkan peran masyarakat. Di atas Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) seluas 4 hektare, INALUM sukses menginkubasi tanaman endemik Toba yang langka seperti kemenyan, andaliman, suren, dan sotul.

Perpaduan antara teknologi ramah lingkungan dan kesejahteraan sosial, INALUM menjaga stabilitas hidrologi Toba. Menahan laju air hujan agar terserap optimal ke dalam akuifer tanah, langkah perusahaan telah membuat 10 ribu unit lubang biopori, 500 unit sumur resapan dan 15 sumur injeksi di tujuh kabupaten sekitar Danau Toba.

Pernyataan yang sama disampaikan oleh Ka Grup Layanan Strategis INALUM, Daniel Hutahuruk yang menyatakan bahwa komitmen ini merupakan wujud tanggung jawab ekologis untuk menciptakan nilai tambah yang tak hanya berdampak bisnis tapi juga bagi lingkungan secara luas.

“Melalui program inovasi yang dijalankan secara berkelanjutan, INALUM berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasional perusahaan. Upaya ini merupakan wujud tanggung jawab kami untuk menciptakan nilai yang tidak hanya berdampak bisnis tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan,” terangnya.

Program taktis ini akan menemui jalan buntu jika mengabaikan warga lokal. Lewat inovasi bernama Metode Tani Nusantara, INALUM menguji sistem budidaya ramah lingkungan di atas lahan seluas 8 hektare pada 2024 sebelum mereplikasikannya secara penuh di 2025. Hasilnya kini, produktivitas petani lokal tiga kali lipat melonjak.

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN