Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Anomali Ekonomi Sumut di Awal 2026: Inflasi Melonjak-Petani Makin Miskin Akibat Gap Distribusi

Mistar.idKamis, 8 Januari 2026 pukul 18.26 WIB
anomali_ekonomi_sumut_di_awal_2026_inflasi_melonjakpetani_makin_miskin_akibat_gap_distribusi

Pengamat Ekonomi UISU, Gunawan Benjamin. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Meski angka inflasi Desember 2025 melonjak tajam sebesar 1,66 persen, Nilai Tukar Petani (NTP) di Sumatera Utara (Sumut) justru merosot 1,82 persen ke level 146,61. Kini, Sumut tengah menghadapi anomali ekonomi yang mengkhawatirkan di awal tahun 2026.

Kondisi ini menunjukkan kenaikan harga di pasar tidak dinikmati oleh produsen, melainkan habis tergerus oleh biaya hidup yang melambung.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai fenomena ini sebagai 'paradoks bencana' yang berbahaya bagi ketahanan pangan daerah.

Menurutnya, petani saat ini berada dalam posisi terjepit antara penurunan harga komoditas global dan kenaikan biaya rumah tangga yang drastis.

“Petani kita merugi atau menjadi lebih miskin secara bulanan. Penurunan NTP di sektor perkebunan rakyat dipicu oleh pelemahan harga CPO global yang turun ke rentang 3.900 ringgit per ton pada Desember," ujarnya, Kamis (8/1/2026).

Di sisi lain, sektor tanaman pangan juga turun 1,88 persen karena indeks harga yang harus dibayar petani naik hingga 2,53 persen, jauh melampaui kenaikan pendapatan mereka yang hanya 0,23 persen.

Gunawan menilai kesenjangan atau gap harga yang terlalu jauh antara tingkat petani dan konsumen menjadi sorotan utama. Jalur distribusi yang sempat terputus akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera telah menciptakan margin keuntungan yang tidak sehat di tingkat perantara.

Hal ini sangat terlihat di Gunungsitoli, Nias, yang mengalami inflasi bulanan di atas 6 persen, namun tidak berdampak pada kesejahteraan petani lokal.

Kondisi serupa terjadi pada sektor peternakan. Walaupun harga daging ayam ras menyumbang andil inflasi dan menaikkan pendapatan peternak sebesar 0,9 persen, pengeluaran mereka justru membengkak hingga 1,98 persen. Akibatnya, NTP peternak turun ke level 91,33, yang menandakan daya beli mereka berada di bawah titik impas.

“Bencana November kemarin telah merusak pola tanam dan membenamkan daya beli petani. Jika pemerintah tidak segera melakukan intervensi kebijakan untuk pemulihan modal dan proses bercocok tanam, kita harus bersiap menghadapi inflasi yang tetap tinggi di masa mendatang karena petani kesulitan untuk berproduksi kembali,” ucap Gunawan.

Krisis daya beli di tingkat petani ini dikhawatirkan akan memicu tekanan modal yang berkepanjangan. Tanpa bantuan benih, pupuk, atau perbaikan akses logistik, paradoks inflasi tinggi di tengah kemiskinan petani ini diprediksi akan memperlambat pemulihan ekonomi Sumatera Utara pasca-bencana.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN