Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

BI Ingatkan Ekonomi Sumut Terancam Tersalip Riau: ‘Harus Lari Lebih Cepat!’

Mistar.idSenin, 8 Desember 2025 pukul 16.33 WIB
bi_ingatkan_ekonomi_sumut_terancam_tersalip_riau_harus_lari_lebih_cepat

Para pembicara pada acara 40th Bisnis Indonesia Group Conference di Hotel Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention, Senin (8/12/2025). (foto: amita/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Deputi Direktur Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara (Sumut), Abdul Khali, menyatakan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia terlihat baik di angka 5 persen, Sumut perlu berlari lebih cepat untuk mempertahankan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Khususnya, BI menyoroti risiko Sumut akan tersalip oleh Provinsi Riau yang kini gencar melakukan hilirisasi. Khali menekankan bahwa kontribusi ekonomi Riau terhadap nasional kini hanya berselisih tipis 0,6 persen dari Sumut.

“Ini hanya selisih 0,6 dengan ekonomi Sumatera Utara. Artinya, kalau kita tidak berlari lebih cepat dibandingkan dengan Riau, perkiraan kami mungkin tidak lama lagi ekonomi kita akan tersalip, dari sisi kontribusi terhadap nasional,” kata Khali pada acara 40th Bisnis Indonesia Group Conference di Hotel Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention, Senin (8/12/2025).

Oleh karena itu, diperlukan perencanaan dan kolaborasi yang lebih baik antara pemerintah dan pelaku usaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tahun 2026.

Ia menjelaskan bahwa pendorong utama ekonomi Sumut saat ini adalah ekspor, terutama produk CPO dan turunannya, yang masih tumbuh tinggi di angka 9,05 persen pada tahun 2025 meskipun trennya melambat.

Namun, ada dua sektor yang menjadi perhatian serius BI, yakni sektor dengan porsi terbesar ini menunjukkan tren perlambatan selama tiga tahun terakhir.

“Tren ekspornya naik, istilahnya pendapatan dari ekspornya naik, tapi konsumsi rumah tangganya melambat. Ini jadi concern buat kita semua. Uangnya siapa yang menikmati, apakah masyarakat di kita menabung atau seperti apa?” ucapnya.

Kemudian, investasi pada tahun 2025 terhambat cukup dalam dengan angka pertumbuhan yang rendah, hanya 0,58 persen. Perlambatan ini diduga karena pelaku usaha menahan investasi (wait and see) jelang Pilkada dan adanya masa transisi pemerintahan.

Namun, ia mencatat bahwa berdasarkan pemantauan di BKPM, total investasi yang tercatat masuk ke Sumut secara akumulasi (2021–2025) mengalami kenaikan di atas 10 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya.

Di sektor pertanian, pertumbuhan tinggi yang mencapai 7 persen di dua triwulan terakhir didorong hampir seluruhnya oleh perkebunan kelapa sawit. Sektor tanaman pangan dan hortikultura tumbuh, namun hanya sedikit.

Khali menyarankan agar pemerintah daerah mendorong sektor pertanian agar tidak hanya fokus pada kelapa sawit. Selain itu, ia menyoroti tantangan besar dalam program peremajaan kelapa sawit (replanting).

“Program peremajaan kelapa sawit kita ini juga perlu, dengan tantangan bahwa infonya masih cukup rendah, dan kita perlu akselerasi bersama,” ujarnya.

Kesulitan ini terjadi karena petani enggan kehilangan pendapatan rutin selama tiga tahun masa tunggu sawit menghasilkan. Oleh karena itu, BI menginisiasi dukungan program replanting dengan menanam jagung sebagai tanaman sela.

“Kenapa jagung itu penting? Karena kita mau melaksanakan program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang perlu suplai pasokan ayam dan telurnya. Di mana daging ayam dan telur ini butuh jumlah pasokan jagung yang cukup besar,” tutur Khali.

Sektor konstruksi juga menunjukkan penurunan drastis pada 2025, yang berarti tidak ada penambahan nilai yang signifikan. Khali meminta pemerintah daerah segera mengambil tindakan.

“Dengan rendahnya pembangunan infrastruktur atau konstruksi di 2025, maka harus kita gas mulai dari awal tahun. Kalau tidak, kita akan tertinggal dari sisi pembangunan infrastruktur,” katanya. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN