Rektor UINSU: Guru Besar Dituntut Jadi Penghubung Ilmu, Nilai, dan Perubahan Zaman

Pengukuhan 14 Guru Besar UINSU Medan. (Foto: Dokumentasi UINSU/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Guru besar merupakan representasi dan integrasi antara kecerdasan intelektual, emosional, dan kedalaman spiritual. Seseorang yang menyandang gelar tersebut harus mampu menjembatani antara tradisi dan modernitas, antara teks dan konteks, serta antara ilmu dan nilai.
Hal ini disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara pada pengukuhan 14 guru besar di Gedung H. M. Arsyad Thalib Lubis, Kampus I Sutomo Medan.
“Posisi guru besar tidak boleh berhenti pada capaian administratif atau simbol sosial belaka. Gelar guru besar adalah amanah besar untuk menjaga akal sehat publik, sekaligus menjadi penunjuk arah di tengah krisis nilai,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4/2026).
Ia menambahkan bahwa saat ini masyarakat hidup dalam zaman yang ditandai percepatan perubahan yang luar biasa, mulai dari kemajuan teknologi, globalisasi, kecerdasan buatan, hingga transformasi digital yang mendorong perubahan besar dalam kehidupan manusia.
“Namun, di tengah kemajuan tersebut, kita dihadapkan pada tantangan yang tidak kalah besar seperti disorientasi moral, kesenjangan sosial, hingga rapuhnya kohesi kemanusiaan,” ujarnya.
Baca Juga: Berawal dari Keresahan Polusi Mesin Diesel, Peneliti USU Lahirkan Inovasi Ramah Lingkungan
Karena itu, ia menilai dunia tidak hanya membutuhkan individu yang cerdas, tetapi juga sosok bijak yang mampu memberi arah. Ia juga menjelaskan bahwa guru besar dituntut melampaui peran sebagai produsen ilmu.
Guru besar, sebutnya, harus menjadi penjaga makna, pemikir yang mampu membaca perkembangan zaman, serta menghadirkan solusi konkret atas persoalan bangsa. Ia juga mengingatkan bahwa kontribusi akademisi tidak cukup hanya melalui publikasi ilmiah, tetapi harus hadir di ruang publik sebagai suara nurani yang membimbing masyarakat.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya keterlibatan langsung akademisi di luar “menara gading”. Ia merujuk pada pesan dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujadalah ayat 11 yang menegaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
“Ayat ini menegaskan ilmu adalah jalan kemuliaan, dan kemuliaan itu hanya akan bermakna apabila diiringi dengan keimanan dan akhlak yang kokoh,” tuturnya.
UINSU, lanjutnya, memiliki mandat strategis untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai keislaman. Ia menolak adanya dikotomi antara ilmu dan agama, antara rasionalitas dan spiritualitas, dan justru mendorong lahirnya sintesis keilmuan yang utuh serta berkeadaban.
Berikut 14 Guru Besar UINSU yang dikukuhkan:
- Prof. Dr. Arifuddin Muda Harahap, S.H.I., M.Hum dalam bidang Ilmu Hukum Ketenagakerjaan.
- Prof. Dr. Sahkholid Nasution, S.Ag., M.Ag di bidang Ilmu Pembelajaran Bahasa Arab
- Prof. Dr. Syukri, M.A pada bidang Ilmu Filsafat Islam
- Prof. Dr. Arifinsyah, M.Ag dalam bidang Ilmu Perbandingan Agama
- Prof. Dr. Sudirman Suparmin, Lc., M.A di bidang Ilmu Ushul Fiqh
- Prof. Dr. Ibnu Radwan Siddik Turnip, S.Ag., M.Ag dalam bidang Ilmu Pemikiran Hukum Keluarga Islam
- Prof. Dr. Muhammad Yafiz, M.Ag pada bidang Ilmu Ekonomi Islam
- Prof. Dr. Anang Anas Azhar, S.Ag., M.A di bidang Ilmu Komunikasi Politik Islam
- Prof. Dr. Sahrul, M.Ag di bidang Ilmu Sosiologi Masyarakat Islam
- Prof. Dr. H. Ardiansyah, Lc., M.Ag pada bidang Ilmu Hadist Ahkam
- Prof. Dr. Irwansyah, M.Ag dalam bidang Ilmu Hubungan Antar Agama
- Prof. Dr. Hasrat Effendi Samosir, M.Ag pada bidang Ilmu Komunikasi Politik Islam Indonesia
- Prof. Dr. Syafrudin Syam, S.Ag., M.Ag dalam bidang Ilmu Hukum Islam Indonesia Kontemporer
- Prof. Dr. Salamudin, M.A di bidang Ilmu Teologi Islam
Dengan bertambahnya 14 guru besar baru, jumlah profesor di lingkungan UINSU kini mencapai 70 orang. Nurhayati berharap penguatan ini mampu mendorong tradisi riset yang lebih progresif, terutama pada bidang strategis seperti sains, hukum, komunikasi, dan teknologi, agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Momentum pengukuhan ini juga diiringi dengan purnabakti Prof. Saiful Akhyar Lubis di UINSU, dan akan melanjutkan pengabdian sebagai Rektor Universitas Al-Washliyah Medan. (hm25)
BERITA TERPOPULER




















