Pengamat Kebudayaan: Marsipature Hutanabe Itu untuk Perantau Sukses yang Berbakti ke Kampungnya

Pengamat Kebudayaan Sumatera Utara, Bersihar Lubis. (foto:istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pengamat sosial dan kebudayaan, Bersihar Lubis, menilai wacana Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Utara (Sumut) untuk menerapkan kurikulum Marsipature Hutanabe dalam metode pembelajaran secara umum merupakan hal yang kurang tepat.
“Ah, ada-ada saja. Marsipature Hutanabe itu untuk perantau yang sukses supaya memikirkan daerahnya. Seperti Luhut Binsar Pandjaitan dengan sekolahnya, Akbar Tanjung dengan sekolahnya di Tapanuli Tengah (Tapteng), termasuk Raja Inal Siregar di Sipirok, dan beberapa contoh lainnya,” katanya kepada Mistar, Rabu (19/11/2025).
Menurutnya, jika ingin meningkatkan rasa cinta terhadap daerah dan mewarisi kearifan lokal, siswa atau pelajar cukup mempelajari geografi tentang daerahnya.
“Jadi, kalau bisa disisipkan dalam pelajaran geografi dengan perbandingan daerah lain. Bisa juga dengan mempelajari kebudayaan dan kesenian daerah,” ucapnya.
Ia menjelaskan, beberapa kesenian daerah yang dapat diwariskan kepada generasi muda saat ini, seperti Aek Sarulla di Tarutung, Tapanuli Utara, Aek Sibundong di Tapteng ataupun tentang Tao Toba dan sebagainya.
“Kesenian itu termasuk tari, adat istiadat, dan cerita rakyat yang hidup di daerah. Ada juga lagu Ketabo Tu Sidimpuan, Musim ni Salak Sonnari Disi, Aek Sibundong, dan Aek Sarulla, lagu-lagu daerah yang populer. Bila perlu, cuplik liriknya dari Google,” katanya.
Ia menegaskan, jika ingin mewariskan kearifan maupun budaya lokal kepada generasi muda, khususnya para pelajar, pemerintah harus mampu menciptakan wadah inovasi agar peserta didik dapat berpikir out of the box.
“Yang penting siswa dididik berpikir kreatif, out of the box. Dasar-dasar seperti itu yang membuat siswa selalu ingat daerahnya. Jika kelak ia sukses di rantauan, ia pun ingat daerah. Hasrat untuk membangun pun muncul,” ujarnya.
Diketahui, Kepala Disdik Sumut, Alexander Sinulingga, mengungkapkan bahwa esensi kurikulum tersebut merupakan muatan lokal berbasis kearifan daerah yang dihidupkan kembali untuk memperkuat identitas dan karakter peserta didik. Ia menegaskan, kurikulum itu akan dikembangkan sebagai bagian dari mata pelajaran muatan lokal, dan tenaga pendidik nantinya berasal dari muatan lokal yang sebelumnya sudah ada.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari anggota Komisi E Sumut, Dameria Pangaribuan, yang menilai upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut untuk kembali menerapkan kurikulum Marsipature Hutanabe dalam pendidikan merupakan langkah yang tepat.
Menurutnya, hal itu dapat menjadi upaya generasi muda untuk mempertahankan kearifan lokal dan menjaga warisan budaya yang semakin tergerus pengaruh media sosial. (hm16)






















