Pemulihan Bencana, Kemendiktisaintek Kerahkan 10.000 Mahasiswa ke Wilayah Terdampak Sumatra

Pelepasan puluhan ribu mahasiswa sebagai penggerak pemulihan pascabencana di Auditorium Unimed. (Foto: Humas Unimed/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengerahkan sebanyak 10.000 mahasiswa ke sejumlah wilayah terdampak bencana di Sumatra untuk memperkuat upaya pemulihan pascabencana melalui program Mahasiswa Berdampak.
Mahasiswa ini berasal dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Mahasiswa ditempatkan sebagai aktor kunci dalam menjembatani fase tanggap darurat menuju pemulihan jangka panjang berbasis kapasitas lokal masyarakat.
Kemendiktisaintek secara resmi melepas puluhan ribu relawan mahasiswa tersebut secara simbolis di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed). Unimed tercatat sebagai perguruan tinggi dengan jumlah proposal terbanyak dari Sumatera Utara.
Berdasarkan data Kemdiktisaintek, Unimed mengajukan tujuh proposal, disusul Universitas Sari Mutiara dengan lima proposal dan Universitas Sumatera Utara empat proposal. Sejumlah perguruan tinggi lain turut berkontribusi dengan satu hingga tiga proposal, seperti Institut Kesehatan Deli Husada, UMSU, Universitas Satya Terra Bhineka, IBKI, Politeknik Negeri Medan (Polmed), Universitas Prima Indonesia (Unpri), STIK Mitra Sejati, STIKES Siti Hajar, Universitas Al Washliyah (Univa), Universitas Deli Sumatera, UISU, Universitas Mahkota Tricom Unggul, Universitas Medan Nusantara (UMN), UNPAB, dan Universitas Tjut Nyak Dhien. Setiap proposal melibatkan 50 mahasiswa dengan pendampingan tiga hingga empat dosen.
Program bertajuk Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatera ini dirancang untuk menjawab dampak kompleks banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera pada akhir 2025. Selama ini, penanganan pascabencana cenderung terfokus pada fase darurat, sementara kebutuhan sosial, ekonomi, dan layanan dasar masyarakat masih berlanjut dalam jangka panjang.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menekankan keterlibatan mahasiswa merupakan bagian dari proses pembelajaran yang utuh. Ia menyebutkan setiap kelompok mahasiswa didampingi dosen pembimbing yang memiliki kompetensi riset dan inovasi agar intervensi di lapangan tetap berbasis kajian ilmiah dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa jumlah mahasiswa yang diturunkan disesuaikan dengan kebutuhan di daerah terdampak.
“Penyebaran mahasiswa terbanyak berada di Kabupaten Aceh Tamiang, kemudian Kabupaten Tapanuli Selatan di Sumatera Utara, dan Kabupaten Agam di Sumatera Barat,” ujar Fauzan, Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan, kekuatan utama program ini terletak pada penerapan inovasi teknologi tepat guna yang berasal dari hasil riset perguruan tinggi dan disesuaikan dengan kondisi riil masyarakat. Bidang intervensi mencakup pemulihan ekonomi, peningkatan akses layanan publik dan fasilitas umum, pemenuhan kebutuhan kesehatan, serta penguatan pengetahuan dan keterampilan warga pascabencana.
Di sektor pangan, mahasiswa mendorong ketahanan pangan berkelanjutan melalui diversifikasi pangan lokal, pertanian pascabencana, hingga pengembangan sistem hidroponik di lahan terbatas. Di bidang energi dan layanan dasar, mahasiswa mengimplementasikan teknologi penyediaan air bersih, pencahayaan tenaga surya, serta pemulihan akses listrik bagi fasilitas vital masyarakat. Sektor kesehatan juga menjadi fokus, termasuk layanan kesehatan dasar, pendampingan psikososial, dan trauma healing bagi kelompok rentan.
“Program ini mengadopsi pendekatan social impact challenge, yakni pemberdayaan masyarakat berbasis tantangan nyata yang diselesaikan melalui kolaborasi lintas disiplin antara mahasiswa dan dosen,” tuturnya.
Menurut Fauzan, pendekatan tersebut memastikan solusi yang diterapkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, bukan sekadar memenuhi target administratif. Program ini juga selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi serta menjadi bagian dari prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong peran generasi muda sebagai agen perubahan.
“Program ini juga menjadi bukti bahwa kampus berperan strategis dalam penanganan isu-isu kebencanaan nasional, bukan hanya melalui riset, tetapi juga aksi nyata di lapangan,” ucap Fauzan.
Rektor Unimed Prof. Baharuddin menyatakan keterlibatan Unimed sejalan dengan komitmen kampus sebagai kampus berdampak yang menempatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari Tridarma Perguruan Tinggi.
“Kami memandang kegiatan ini sebagai upaya memastikan kolaborasi berkelanjutan dan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak,” kata Baharuddin.
Tahun ini, Program Mahasiswa Berdampak melibatkan 18 perguruan tinggi di Sumatera Utara dengan sekitar 2.000 mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan. Keterlibatan universitas negeri, swasta, politeknik, dan institusi kesehatan menunjukkan bahwa pemulihan bencana membutuhkan pendekatan multidisipliner.
Kepada para mahasiswa, ia berpesan agar kegiatan ini dimaknai sebagai ruang belajar kehidupan dengan menjunjung sikap rendah hati, empati, dan kerja kolaboratif. Ia berharap kehadiran mahasiswa mampu memberi arti dan harapan bagi masyarakat dalam proses pemulihan pascabencana. (hm25)






















