Thursday, October 1, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Kemdiktisaintek Dorong Riset Teknologi Hidrogen Hijau, Libatkan Kampus dan Industri

Mistar.idKamis, 1 Oktober 2026 pukul 15.23 WIB
kemdiktisaintek_dorong_riset_teknologi_hidrogen_hijau_libatkan_kampus_dan_industri

Ilustrasi: Hydrogen Plant PLN di Suralaya, Banten. (foto: PLN)

news_banner

Bandung, MISTAR.ID - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong penguatan riset dan inovasi di bidang energi bersih melalui pengembangan teknologi hidrogen hijau di Indonesia.

Salah satu yang tengah dikembangkan adalah Electrolyzer Condition Based Maintenance System (eCBMS) untuk Green Hydrogen Plant. Teknologi tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, operator dan mitra internasional.

Dalam keterangan resminya, Kemdiktisaintek menyebut FGD yang berlangsung 29 September 2026 tersebut merupakan bagian dari studi kelayakan untuk penerapan eCBMS pada Green Hydrogen Plant di Indonesia.

Sejumlah pihak yang terlibat antara lain Kemdiktisaintek, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN, Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mitra dari Jepang serta sektor industri.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, industri dan perguruan tinggi untuk membangun ekosistem riset yang mampu menjawab kebutuhan strategis nasional.

“Pengembangan teknologi hidrogen tidak hanya perlu diarahkan pada aspek teknologi hulu, tetapi juga pada proses scale-up, implementasi, dan pengembangan teknologi pendukung di sisi hilir,” kata Fauzan, dikutip dari laman resmi Kemdiktisaintek, 30 September 2026.

Salah satu teknologi pendukung yang dikembangkan adalah sistem pemeliharaan berbasis kondisi pada elektrolizer. Pengembangan eCBMS tersebut saat ini memasuki tahap pre-feasibility study (pre-FS).

“Kami sangat mendukung yang akan dilakukan hari ini untuk mendukung terbentuknya pre-FS khususnya eCBMS dengan aplikasi nanti di Indonesia,” ujar Fauzan.

Kemdiktisaintek juga menekankan pentingnya kerja sama Indonesia-Jepang dalam pengembangan teknologi hidrogen. Kerja sama tersebut melibatkan mitra Jepang, termasuk NEDO, untuk memperkuat kapasitas riset dan pengembangan teknologi.

Menurut Kemdiktisaintek, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara kebutuhan industri, pengembangan teknologi dan kolaborasi internasional.

Melalui pendekatan Hub and Spoke serta berbagai skema kemitraan riset internasional, pemerintah berharap hasil riset dapat dimanfaatkan lebih luas untuk mendukung industri dan masyarakat. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN