Mengenal Pangir, Ramuan Alami yang Dipakai untuk Mandi Menyambut Puasa

Pangir campuran dedaunan rempah alami yang memberikan aroma wangi dicampur untuk mandi sebagai persiapan Ramadan. (foto: perdana/mistar)
Asahan, MISTAR.ID
Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini disampaikan dalam sidang isbat dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar, Selasa (17/2/2026) malam.
Menyambut puasa, sejumlah daerah di Sumatera Utara (Sumut) memiliki cara unik untuk menyambutnya. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah mandi menggunakan ramuan alami yang dikenal dengan sebutan pangir.
Tradisi ini bukan sekadar ritual membersihkan diri, tetapi menjadi simbol penyucian lahir dan batin sebelum memasuki bulan penuh berkah. Di kalangan masyarakat Mandailing, pangir telah lama digunakan sebagai campuran mandi pada sore hari terakhir bulan Sya’ban atau sehari sebelum puasa Ramadan dimulai.
Namun, praktik ini tidak hanya dilakukan oleh etnis Mandailing. Masyarakat pesisir di berbagai wilayah di Sumatera Utara, termasuk Kabupaten Asahan dan Tanjungbalai juga melakukan hal serupa.
Pangir dibuat dari campuran daun pandan wangi, jeruk purut, sereh wangi, daun nilam, mayang pinang, serta beberapa jenis akar-akaran.
Aroma khas dari jeruk purut dan sereh memberi sensasi segar, sementara pandan dan nilam menghadirkan keharuman lembut yang menenangkan. Ramuan tersebut biasanya direndam atau diremas dalam air sebelum digunakan untuk mandi.
Bagi masyarakat setempat, keharuman alami ini bukan sekadar wewangian, tetapi menjadi simbol kesiapan diri menyambut Ramadan dengan tubuh yang bersih dan hati yang lapang.
“Tradisi mandi pangir umumnya dilakukan pada sore hari menjelang masuknya malam pertama Ramadan. Sebagian masyarakat melaksanakannya di sungai, pemandian umum, atau di rumah masing-masing,” kata Sahrial Simangunsong, pemerhati kebudayaan Sumatera Utara yang juga Ketua Lembaga Seni Budaya Pemuda di Asahan, Rabu (18/2/2026).
Setelah mandi menggunakan ramuan pangir, bagi sebagian masyarakat mereka akan lebih siap menunaikan salat tarawih pertama dengan perasaan lebih segar dan khusyuk.
Sahrial melanjutkan, pangir merupakan bagian dari warisan budaya yang sarat nilai simbolik saat Ramadan tiba. Menurutnya, tradisi ini mengandung pesan penyucian diri secara fisik dan mental. Selain membersihkan tubuh, mandi pangir diyakini membantu menumbuhkan semangat baru dalam menjalankan ibadah puasa.
“Secara psikologis aroma alami dari bahan-bahan pangir memberikan efek relaksasi yang dapat meningkatkan kesiapan spiritual. Tubuh yang segar dan wangi dipercaya mampu menambah rasa percaya diri saat beribadah dan berinteraksi dengan sesama," ucapnya.
Dalam praktiknya, tradisi pangir dipandang sebagai bagian dari budaya lokal yang bersifat mubah atau diperbolehkan selama tidak diyakini sebagai kewajiban agama. Ia mengatakan selama nilai-nilai tersebut dijaga, pangir menjadi tradisi yang memperkaya khazanah budaya Islam Nusantara.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi pangir masih mampu bertahan. Bahkan, di sejumlah daerah pesisir seperti Asahan, kebiasaan ini mulai kembali diminati sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
“Bagi masyarakat pangir bukan hanya soal mandi dengan ramuan alami. Ia adalah simbol transisi dari hari-hari biasa menuju bulan suci, momen untuk berhenti sejenak, merenung, dan mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan hati yang bersih,” ujarnya.




















