Friday, June 5, 2026
home_banner_first
BUDAYA

Angkat Isu Perempuan, Aucintia Manik Lakoni Enam Karakter Berbeda di Pentas Monolog Bias Lampu Kota

Mistar.idSabtu, 7 Februari 2026 21.49
journalist-avatar-top
SH
angkat_isu_perempuan_aucintia_manik_lakoni_enam_karakter_berbeda_di_pentas_monolog_bias_lampu_kota

Aucintia saat berlakon di teater monolog Bias Lampu Kota. (foto: susan/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Di tengah hiruk-pikuk kota yang menjanjikan mimpi, perempuan kerap berhadapan dengan realitas yang berbeda-beda. Hal itulah yang coba dibaca dan disampaikan seniman teater Medan bersama Atma Loka melalui pementasan monolog Bias Lampu Kota, sebuah pertunjukan yang merekam pengalaman perempuan dari berbagai usia, ruang, dan waktu di kota.

Sutradara Bias Lampu Kota, Munawar Lubis, mengatakan proses penciptaan pertunjukan ini berangkat dari pencarian peristiwa-peristiwa yang dekat dengan kehidupan perempuan di kota. Isu tersebut kemudian didata, dipilih, dan dilatih hingga menjadi peristiwa panggung.

“Proses ini terus mencari peristiwa dengan isu perempuan di kota. Dari berbagai usia, berbagai waktu, berbagai ruang,” ujar Munawar saat ditemui Mistar di Taman Budaya Medan, Sabtu (7/2/2026) malam.

Menurutnya, problem perempuan memang menjadi pusat cerita, namun cara penyampaiannya dibuat beragam. Ada karakter yang tampil lugu, ada yang pura-pura kuat, ada yang mengendalikan, mengekang, hingga menahan diri. Semua itu, kata Munawar, adalah bentuk resistensi perempuan terhadap tekanan yang mereka hadapi.

“Resistensi yang datang terhadap perempuan, bagaimana dia mengelolanya, cara-caranya seperti itu. Itu sengaja kami pilih untuk kebutuhan mencari cara penyampaian lain ke penonton,” katanya.

Munawar menjelaskan, perempuan dipilih sebagai fokus bukan semata-mata sebagai simbol, melainkan sebagai representasi masyarakat kota itu sendiri. Kota, baginya, adalah pusat kekuasaan politik, yang membuat banyak orang berbondong-bondong datang dengan harapan impian mereka akan tercapai.

“Pada kenyataannya justru sebaliknya. Banyak yang tidak menemukan apa yang mereka cari. Isu-isu itu kami data, tapi kami memposisikan diri sebagai perempuan. Kadang kami masuk ke dalam isu itu, kadang berjarak melihatnya. Kadang menjawab, kadang mempertanyakannya,” ucap Munawar.

Kendala utama selama proses rampungnya pentas monolog Bias Lampu Kota ini, kata Munawar, hanyalah soal waktu latihan yang harus disesuaikan dengan berbagai aktivitas para pelaku teater. Meski begitu, ia menyebut prosesnya tetap terasa menyenangkan bagi semua tim.

Melalui pementasan ini, Munawar berharap masyarakat semakin mengenal seni pertunjukan berbasis akting dan karya sastra yang dipentaskan secara langsung. “Bahwa ada seni pertunjukan yang basisnya akting, drama, karya sastra,” tuturnya.

Munawar bersama Aucintia usai pentas. (foto: susan/mistar)

Ia juga menyinggung pentingnya dukungan pemerintah, meski menyadari seni pertunjukan belum menjadi prioritas.

“Seni ini sebenarnya media politis juga, media kritik. Pemerintah harus tahu dan mensupport, walaupun kita sadar ini jauh dari prioritas mereka. Tapi kita nggak mungkin menuntut banyak tentang fasilitas ke pemerintah, ya bagaimana kita mencari alternatif yang baik terhadap apa yang disediakan,” ujarnya.

Sementara itu, pemeran tunggal Bias Lampu Kota, Aucintia Agnes R Manik, mengaku berusaha menampilkan yang terbaik di setiap babak. Ia berharap penonton dapat menangkap makna dari setiap pendar lampu yang hadir di panggung.

“Setiap bias lampu, setiap pendar lampu, menerangi sesiapa saja yang punya peliknya sendiri-sendiri,” kata Aucintia.

Dalam pementasan yang digelar dua sesi itu, Aucintia melakoni enam karakter berbeda, mulai dari istri yang kesulitan menasihati suami, anak yang mengalami perundungan, perempuan yang tulus namun kesepian, hingga sosok-sosok lain yang kerap luput dari perhatian masyarakat kota yang cenderung individualis.

Aucintia saat berlakon di teater monolog Bias Lampu Kota. (foto: susan/mistar)

Ia juga menyinggung isu kesetaraan gender yang hadir dalam pertunjukan ini. Menurutnya, kesetaraan bukanlah alat untuk saling melepaskan tanggung jawab, melainkan soal pembagian peran yang adil.

“Masa yang bagian enaknya nanti perempuan. Tiba yang susah ‘kau lah, aku kan perempuan’. Bagian yang enaknya ‘akulah, aku kan perempuan’. Maunya jangan seperti itu, harus rata,” ucapnya.

Sebagai seniman Gen Z, Aucintia mengakui jalan teater bukan pilihan yang mudah. Waktu dan perhatian banyak tersita, bahkan kerap dipertanyakan oleh lingkungan sekitarnya. Namun, ia memilih bertahan karena cinta dan euforia yang ia rasakan di dunia seni pertunjukan. “Orang lain mungkin tidak merasakan apa yang saya rasakan,” katanya.

Aucintia mengaku lega atas pementasan yang ia lakukan, dan berharap penonton pulang membawa sesuatu yang bukan hanya sekadar solusi tapi juga refleksi diri.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN