Saturday, June 13, 2026
home_banner_first
SUMUT

Masinton Minta Maaf di Paskah Tapteng: Akui Lambat Tangani Korban Bencana

Mistar.idKamis, 23 April 2026 21.28
journalist-avatar-top
FM
masinton_minta_maaf_di_paskah_tapteng_akui_lambat_tangani_korban_bencana

Bupati Tapteng, Masinton Pasaribu saat menyampaikan kata sambutan pada perayaan Paskah Oikumene Tapteng. (foto:feliks/mistar)

news_banner

Tapteng, MISTAR.ID

Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Masinton Pasaribu, menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan dalam pelayanan, mulai dari pendataan, penyaluran, hingga perbaikan bagi korban bencana alam.

Permohonan maaf tersebut disampaikannya pada perayaan Paskah Oikumene tahun 2026 yang dihadiri ribuan umat Kristen di Gedung Serbaguna Pandan, Kamis (23/4/2026).

Masinton mengatakan, Kabupaten Tapteng saat ini berdiri di antara dua kenyataan, yakni luka yang masih tersisa dan harapan yang mulai menyala. Menurutnya, ia tidak lupa pernah berjalan di tengah kesulitan, melihat rumah yang hancur, dan menyentuh tanah yang tertimbun.

“Tentu pertama kami menyampaikan permohonan maaf kami dan maaf sebesar-besarnya bahwa Pemkab Tapteng mengalami banyak keterlambatan untuk melakukan pelayanan, mulai dari pendataan, penyaluran, perbaikan, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Ia menegaskan, tidak ada kerja yang sempurna dan tidak ada anak buah yang salah. Sebagai pimpinan, seluruh kekeliruan dan keterlambatan menjadi tanggung jawabnya.

“Itu tanggung jawab saya sebagai pimpinan, sebagai kepala daerah untuk mempercepat dan memperbaiki seluruh langkah percepatan. Kami juga mendengar seluruh aspirasi terkait keterlambatan dalam melakukan pendataan,” ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, hingga saat ini pihaknya masih terus berupaya melakukan perbaikan, sehingga dalam waktu dekat akan dilakukan berbagai percepatan.

Masinton mengungkapkan, sejak awal bencana, Tapteng tidak pernah sendiri. Bahkan, menjadi salah satu daerah bencana yang dikunjungi Presiden Prabowo Subianto.

“Presiden datang melihat Tapteng dan dukungan dari berbagai instansi, kementerian, lembaga pemerintah pusat, provinsi, dan juga dari berbagai instansi vertikal hadir membantu kita semua,” ucapnya.

Ia menuturkan, perhatian tidak hanya datang dari unsur pemerintah, tetapi juga dari unsur gereja, masjid, vihara, serta berbagai lintas keyakinan dan agama lainnya yang bahu-membahu membantu.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa urusan bencana adalah urusan kemanusiaan, bukan urusan politik. Berbagai partai politik hingga ketua umum partai juga turut memberikan bantuan.

“Maka itu, kita tidak berdiri sendiri dan Tapteng tidak sendirian. Kita disokong dan didukung, baik dari sisi anggaran, program, maupun pelaksanaan, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten. Semua dialokasikan untuk percepatan pemulihan Tapteng pascabencana,” ucapnya.

Masinton mengajak masyarakat untuk bangkit dari kegelapan menuju terang dan dari keputusasaan menuju harapan. Ia menegaskan tidak ada beban yang terlalu berat jika dihadapi bersama.

Ia menilai momen Paskah bukan sekadar perayaan, melainkan titik balik. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya meratap sebagai korban, tetapi harus bangkit menjadi pejuang pemulihan.

“Mulai berkata kita adalah pejuang-pejuang pemulihan. Kita harus bangkit dari korban menjadi pejuang pemulihan. Kita harus bangkit dari rasa takut menjadi keberanian, bangkit dari kelelahan,” ujarnya.

Masinton mengakui masyarakat merasa jenuh dan lelah dengan kondisi yang ada. Namun, ia menegaskan keadaan tersebut harus diatasi dengan semangat kebangkitan menjadi kekuatan baru.

“Bangkit dari ketergantungan menjadi kemandirian. Saatnya kita bangkit sebagai masyarakat yang tidak saling meninggalkan, sebagai saudara yang saling menopang, dan sebagai komunitas yang saling menguatkan, karena kita tahu tidak ada pemulihan tanpa kebersamaan,” tuturnya mengakhiri. (hm27)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN