Saturday, June 13, 2026
home_banner_first
SUMUT

Ribuan Umat Padati Paskah Oikumene Tapteng, Seruan Bangkit Pascabencana Menggema

Mistar.idKamis, 23 April 2026 19.28
journalist-avatar-top
FM
ribuan_umat_padati_paskah_oikumene_tapteng_seruan_bangkit_pascabencana_menggema

Uskup Keuskupan Sibolga, Uskup Mgr. Fransiskus Sinaga saat menyampaikan homilinya pada perayaan Paskah Oikumene Pemkab Tapteng tahun 2026 di Gedung Serbaguna Pandan. (foto:feliks/mistar)

news_banner

Tapteng, MISTAR.ID

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Tengah (Tapteng) merayakan Paskah Oikumene tahun 2026 di Gedung Serbaguna Pandan, Kamis (23/4/2026).

Perayaan yang dihadiri Bupati Tapteng Masinton Pasaribu dan ribuan umat Kristen itu mengangkat tema “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita” (2 Korintus 5:17) dan subtema “Tapteng Bangkit Lebih Kuat dalam Kesederhanaan dan Sukacita”.

Sebelum acara, ribuan umat menggelar prosesi membawa salib dengan berjalan kaki dari Alun-alun Kota Pandan, Jalan Dr. F.L. Tobing, menuju lokasi acara di Gedung Serbaguna Pandan yang dimeriahkan marching band, dan selanjutnya menggelar ibadah yang turut menampilkan koor serta lagu-lagu pujian.

Perayaan yang dipimpin Uskup Keuskupan Sibolga, Uskup Mgr. Fransiskus Sinaga, dalam homilinya menyampaikan selamat Paskah dan mendorong masyarakat untuk bersama-sama bangkit pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Tapteng.

Ia mengatakan, pada 25 November 2025 lalu, Tapteng mengalami bencana alam yang mengakibatkan kerusakan yang dahsyat, berat, dan tragis. Banyak rumah yang rusak serta harta benda yang hilang terbawa arus banjir bandang.

“Tidak hanya itu, kita juga kehilangan anggota keluarga. Ada famili dan saudara-saudari kita yang meninggal karena bencana ini,” ujarnya.

Menurutnya, keadaan tersebut membuat masyarakat mengalami ketakutan, trauma, panik, cemas, putus asa, tidak nyaman, dan kesedihan.

“Kita bertanya dalam diri kita masing-masing. Ada apa dengan kita? Mengapa ini bisa kita alami? Bagaimana kita harus bangkit dari situasi bencana ini? Dan bagaimana spirit pascabencana?” katanya.

Ia menegaskan melalui perayaan Paskah Oikumene yang dilaksanakan itu, masyarakat harus dapat bangkit seperti kisah kebangkitan Kristus dalam Injil Yohanes bab 20 ayat 1–5 yang mengajak untuk memeriksa kegelapan hidup.

“Sering sekali, kita merasa Tuhan diambil dari hidup kita saat kita mengalami penderitaan, kesulitan hidup, atau saat kita mengalami bencana alam,” ucapnya.

Kebangkitan Kristus, lanjutnya, telah mengalahkan dosa, ketakutan, kecemasan, dan keputusasaan. Paskah akan meneguhkan dan menguatkan agar situasi bencana tidak membuat putus asa.

“Justru Paskah mengangkat dan membangkitkan kita, supaya meskipun kondisi sulit, kita tetap harus bangkit, tidak putus asa, dan tidak galau,” ujarnya.

Uskup juga mengajak masyarakat pascabencana untuk tidak saling menyalahkan, karena bencana tidak diharapkan kedatangannya. Namun, bencana tersebut diharapkan dapat mempersatukan agar dapat keluar dari kesulitan.

“Jangan saling menyalahkan, menyerang, mendiskreditkan, dan juga jangan saling mencari-cari kesalahan. Bukan saatnya. Paskah kebangkitan Kristus mengajak kita supaya bergandengan tangan, berjalan bersama keluar dari kesulitan ini,” katanya.

Ia menambahkan, tidak cukup hanya bupati dan wakil bupati membawa keluar dari situasi bencana, tetapi seluruh elemen masyarakat, termasuk para pemuka agama, harus bersama-sama terlibat untuk keluar dari kondisi sulit tersebut. (hm27)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN