Jelang Samosir Beranjak 22 Tahun, Wilmar Simanjorang: Sudah Berjalan tapi Belum Sesuai yang Diharapkan

Pemerhati lingkungan asal Samosir, Wilmar EliezerSimanjorang. (foto: istimewa/mistar)
Samosir, MISTAR.ID
Pemerhati lingkungan asal Samosir, Wilmar EliezerSimanjorang memberikan penilaian atas refleksi Kabupaten Samosir akan memasuki usia 22 tahun.
"Saya menilai usia 22 tahun Kabupaten bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah kabupaten, karena pada fase ini suatu daerah seharusnya sudah mengenal kekuatan dan kelemahannya serta berani menentukan arah pembangunan ke depan," ujarnya saat merefleksikan perjalanan Kabupaten Samosir, Senin (5/1/2026).
Ia merasa bersyukur karena Kabupaten Samosir sudah berjalan, pemerintahan telah terbentuk, pembangunan fisik terlihat, dan kehidupan masyarakat relatif stabil.
"Tetapi saya harus jujur mengatakan bahwa kita belum melompat. Artinya belum sesuai dengan yang diharapkan," kata Penjabat Bupati Samosir 2004-2005 itu.
Menurut Wilmar, berjalan berarti roda pemerintahan berputar, jalan dibangun, kantor berdiri, dan program dilaksanakan, namun melompat berarti terjadi perubahan nyata dalam kualitas hidup masyarakat yang dirasakan secara merata dan berkelanjutan.
Ia juga menjelaskan tepatnya tanggal 7 Februari 2026, Kabupaten Samosir telah berusia 22 tahun.
Ia menegaskan kemajuan fisik di Samosir cukup mudah dikenali, terutama dari tumbuhnya sektor pariwisata di beberapa desa, meningkatnya pendapatan daerah, dan perlahan naiknya Indeks Pembangunan Manusia.
Namun demikian, Wilmar menyatakan ketika melihat desa-desa yang jauh dari pusat pariwisata, masih banyak warga yang bergantung pada ekonomi informal yang rapuh dan menghadapi keterbatasan kesempatan kerja, sehingga ketimpangan antar wilayah masih terasa nyata.
“Pemekaran kabupaten memang mendekatkan layanan kepada masyarakat, tetapi saya melihat layanan itu belum sepenuhnya memudahkan karena urusan perizinan, administrasi kependudukan, dan layanan dasar masih sering lambat dan berbelit," tuturnya.
Ia menambahkan digitalisasi memang hadir, tetapi sering berhenti pada aplikasi, belum menjadi cara kerja birokrasi yang benar-benar membantu warga.
Wilmar juga menyoroti sektor pariwisata dengan menyatakan pariwisata adalah kekuatan utama Samosir, tetapi harus sadar bahwa Samosir berada di jantung Danau Toba yang memiliki ekosistem purba dan menjadi ruang hidup masyarakat adat.
Ia mengingatkan jika pariwisata hanya dikejar melalui angka kunjungan dan pembangunan fisik besar, maka tekanan terhadap hutan, air, dan ruang hidup akan semakin kuat dan berisiko merusak sumber kehidupan masyarakat.
Menurutnya, kerusakan ekologis bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berdampak pada ekonomi, sosial, dan moral, karena pembangunan eksploitatif hanya menguntungkan jangka pendek dan merugikan generasi mendatang.
Wilmar menegaskan, ke depan, pembangunan Samosir harus berlandaskan kesadaran ekologis jangka panjang yang selaras dengan RPJMD, SDGs, dan agenda besar Danau Toba.
“Pendekatan ekoteologis memandang alam bukan sekadar sumber daya, melainkan titipan moral dan budaya yang wajib dijaga,” katanya.
Menurutnya, kebijakan publik, pariwisata, dan investasi harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan warga dengan tetap menjaga daya dukung lingkungan melalui pariwisata berbasis desa dan budaya, konservasi hutan, serta pengelolaan sumber daya air yang bijak.
“Saya percaya lompatan pembangunan tidak akan terjadi jika kebijakan hanya ditentukan dari balik meja tanpa mendengar suara warga,” tuturnya.
Ia menambahkan warga bukan penonton dan bukan penghambat pembangunan, melainkan pemilik sah ruang hidupnya sendiri. Menurut Wilmar, partisipasi masyarakat sejak tahap perencanaan, disertai informasi yang jujur dan persetujuan yang bebas, akan membuat pembangunan lebih kuat, berumur panjang, dan diterima.
Di usia 22 tahun, sambungnya, Samosir telah mampu berjalan sendiri, tetapi tantangan zaman menuntut keberanian untuk melompat menuju pembangunan yang adil, pelayanan yang manusiawi, dan pengelolaan alam yang bijaksana.
“Saya meyakini daerah yang benar-benar maju bukanlah yang paling banyak membangun, melainkan yang manfaat pembangunannya paling dirasakan rakyat serta paling mampu menjaga warisan alam dan budaya bagi generasi mendatang,” ucapnya.
PREVIOUS ARTICLE
IPM Asahan Melonjak di 2025, Capaian Naik 0,96 Persen

























