Friday, June 26, 2026
home_banner_first
SUMUT

Diserang Hama Tikus, Petani Toba Tak Lagi Gunakan Pola Tanam Padi Dua Kali

Mistar.idJumat, 26 Juni 2026 pukul 13.07 WIB
diserang_hama_tikus_petani_toba_tak_lagi_gunakan_pola_tanam_padi_dua_kali

Saat panen raya di Kecamatan Porsea. (Foto: Nimrot/Mistar)

news_banner

Toba, MISTAR.ID – Petani di beberapa kecamatan Kabupaten Toba, misalnya di Kecamatan Porsea, Uluan dan Siantar Narumonda tidak lagi menggunakan pola tanam dua kali setelah gagal panen akibat serangan tikus.

“Saat ini, petani tidak mau lagi melaksanakan pola tanam dua kali karena risiko gagal panen akibat hama tikus yang sangat besar,” tutur salah seorang warga Kecamatan Porsea, Frankin, Jumat (26/6/2026).

Bukannya tidak mengapresiasi program pemerintah, dilanjutkan Frankin, program tanam padi dua kali dalam setahun harus diuji coba terlebih dahulu.

“Katanya program ini mampu meningkatkan ekonomi petani, namun untuk prakteknya tidak semudah teorinya. Untuk memuluskan program tanam padi dua kali setahun, apakah pemerintah sudah siap memberikan subsidi kepada petani jika serangan hama tikus yang masif kembali menyerang?" tuturnya.

Setelah kali ini gagal panen, seharusnya Pemkab Toba mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Kemudian, mengenai biaya ganti rugi belum juga diberikan.

“Mereka (dinas terkait) mengarahkan pola tanam dua kali, sementara kerugian dari masyarakat tidak mereka pikirkan, buktinya beberapa tahun lalu Desa Simpang Sigura-gura juga mendapat serangan hama tikus. Padahal sudah dilakukan kropyokan (berburu tikus). Tetap saja hama tikus tidak berkurang. Ganti rugi sampai sekarang belum ada diberikan,” ujarnya.

Menurut Frankin, pola tanam dua kali dalam setahun mengubah sistem migrasi (perpindahan) tikus. Biasanya, petani di Toba hanya melakukan tanam padi satu tahun sekali. Saat dilakukan dua kali dalam satu tahun, tikus akan berpesta pora tanpa sempat bermigrasi.

“Bisa jadi tikus tetap bertahan disarangnya dan tidak bermigrasi. Sebab, makanan lebih banyak tersedia jika menggunakan pola tanam dua kali,” ujarnya.

Dijelaskan Frankin, seperti di Kecamatan Porsea, setelah panen maka petani akan menjadikan lahan sawah menjadi kolam ikan. Di saat seperti ini, tikus akan mengungsi ke daerah lain.

"Bisa saja program tanam dua kali akan berhasil setelah petani mengalami gagal lima kali atau lebih. Selama gagal, apakah petani akan mendapat biaya ganti rugi terus hingga mampu beradaptasi dengan pola tanam baru?" tuturnya lagi.

Hal senada dikatakan seorang warga asal Kecamatan Siantar Narumonda, Umri Marpaung. Ia menjelaskan, tikus yang menyerang padinya diduga berasal dari sawah tetangga yang melakukan pola tanam dua kali dalam setahun.

"Tikus belum sempat bermigrasi ke daerah lain akan tetap bertahan di wilayah yang sama karena makanan tersedia. Jadi, tikus sangat masif menyerang sawah saya," ucap Umri.

Sebelumnya, Dinas Pertanian Toba mengatakan petani harus melakukan kropyokan untuk mengantisipasi serangan tikus. Menurut Umri, kroyokan tidak semudah yang dikira. Beberapa petani yang sudah melakukannya, tetap tidak mengurangi serangan tikus. Ada pula petani yang menggunakan racun tikus. Hasilnya pun tidak maksimal.

"Racun tikus sudah saya sebar di sawah, tetapi tikus tetap menyerang. Anehnya padi yang dimakan tikus hanya padi yang berada di tengah. Sementara pinggiran sawah tidak disentuh," ujarnya.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Kabupaten Toba, Pimpinan Siambaton, menyampaikan serangan hama tikus sebaiknya dilakukan sejak awal sebelum masa penanaman padi agar terhindar dari serangan hama tikus terlebih di saat fase pembuahan.

"Penanggulangan sebaiknya dilakukan sebelum masa tanam seperti melakukan gropyokan (gotong-royong) untuk membasmi hama tikus dan dapat dilakukan dengan cara pengumpanan ataupun pengasapan pada sarang tikus," ucap pimpinan, Senin (22/6/2026).

Senada disampaikan, Kepala Dinas Pertanian Toba, Lena Pardede, mengatakan selain gropyokan petani juga harus membersihkan sawah sebelum mengolah lahan.

"Budaya tersebut saat ini tidak dilakukan petani lagi, bila hal tersebut dilakukan akan dapat mengurangi serangan hama tikus," ucap Lena. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN