Air PDAM Lahewa Kembali Diduga Tercemar, Pelanggan Keluhkan Rugi Berulang dan Tagihan Membengkak

Faozanolo Gea, Kepala PDAM Tritanadi Unit Lahewa. (foto:istimewa/mistar)
Nias Utara, MISTAR.ID
Air yang dibeli pelanggan dari PDAM Unit Lahewa yang dibayar setiap bulan akhirnya membuat pelanggan kecewa dan merasa rugi besar. Pasalnya, sudah tiga kali air yang didistribusikan kepada ribuan pelanggan PDAM diduga tidak layak digunakan karena tercemar.
Kasus kembalinya air PDAM Unit Lahewa yang diduga tercemar tersebut dibenarkan Kepala PDAM Tirta Nadi Unit Lahewa, Faozanolo Gea, saat dikonfirmasi awak media melalui pesan WhatsApp pada Minggu (7/6/2026) sekitar pukul 13.30 WIB.
Ia mengatakan pihaknya telah mengambil sampel air yang diduga tercemar dan telah mengirimkannya ke laboratorium di Medan.
“Sampel air kita kirim ke Medan untuk diperiksa di laboratorium. Pendistribusian air belum bisa kita pastikan kapan beroperasi kembali,” kata Faozanolo.
Baca Juga: Pimpin PDAM Tritanadi Lahewa, Faozanolo Gea Targetkan Perluasan Pelanggan hingga Wilayah Sekitar
Saat ditanya sejak kapan air yang disalurkan PDAM kepada pelanggan diduga tercemar, ia menjelaskan kondisi tersebut mulai terjadi pada 6 Juni 2026.
Sementara itu, beberapa jam setelah konfirmasi kepada pihak PDAM, salah seorang pelanggan setia PDAM Unit Lahewa yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku terkejut setelah membaca informasi di media sosial Facebook terkait dugaan air tercemar tersebut.
Ia menyebut, sejak Jumat (5/6/2026) hingga Sabtu pagi (6/6/2026), air yang masuk ke rumahnya masih dalam kondisi normal dan tidak menunjukkan tanda-tanda aneh seperti bau atau perubahan warna.
“Dari hari Jumat dan Sabtu pagi, air kami tidak ada yang aneh, Pak. Tidak bau atau berubah warna. Tapi sore hari Sabtu saya lihat di Facebook air PDAM disebut tercemar dan sampai sekarang belum mengalir,” keluhnya.
Pelanggan tersebut mengaku kecewa dan heran karena kondisi ini terjadi di tengah musim kemarau yang berkepanjangan, saat kebutuhan air bersih sangat tinggi.
“Saya kaget dan heran, Pak. Kok sebentar-sebentar air PDAM itu tercemar dan dimatikan,” ujarnya.
Ia juga mengaku mengalami kerugian karena harus membeli air bersih dengan harga Rp25.000 per jerigen selama air PDAM tidak mengalir. Menurutnya, kondisi ini sudah terjadi hingga tiga kali.
Selain itu, ia juga menyoroti kenaikan tagihan bulanan yang dinilai meningkat signifikan setelah distribusi air kembali normal pascagangguan sebelumnya. (hm27)
BERITA TERPOPULER
Prediksi Argentina vs Honduras: Albiceleste Diunggulkan Menang dalam Laga Pemanasan Piala Dunia 2026





















