Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Mark Zuckerberg Bantah Instagram Bikin Remaja Kecanduan

Mistar.idSelasa, 24 Februari 2026 pukul 12.02 WIB
mark_zuckerberg_bantah_instagram_bikin_remaja_kecanduan

Mark Zuckerberg. (Foto: The Verge)

news_banner

Los Angeles, MISTAR.ID

Chief Executive Officer Meta Platforms, Mark Zuckerberg, menepis tuduhan bahwa layanan media sosial milik perusahaannya sengaja dirancang agar anak-anak dan remaja menjadi kecanduan.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat memberikan kesaksian di persidangan yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat, terkait gugatan terhadap Meta dan sejumlah perusahaan teknologi lainnya.

Sidang itu menyoroti dugaan bahwa berbagai platform populer seperti Instagram, Facebook, dan YouTube memiliki sistem yang berpotensi membuat pengguna usia muda sulit melepaskan diri dari penggunaan aplikasi.

Perkara ini bermula dari gugatan seorang penggugat berinisial K.G.M., yang diketahui mulai memakai Instagram sejak berusia sembilan tahun. Ia hadir langsung di ruang sidang dan duduk berhadapan dengan Zuckerberg, yang datang bersama tim pengamanan serta koleganya.

Pengacara utama K.G.M., Mark Lanier, memaparkan sejumlah dokumen internal perusahaan, termasuk surat elektronik, pesan internal, dan hasil penelitian yang menunjukkan adanya pembahasan di kalangan pimpinan Meta mengenai penggunaan platform oleh remaja, bahkan anak-anak. Salah satu e-mail tahun 2019 yang dikirim kepada Zuckerberg dan beberapa eksekutif disebut menyinggung lemahnya penerapan batas usia minimum pengguna.

Dalam dokumen tersebut, Nick Clegg, yang pernah menjabat kepala urusan global Meta sekaligus mantan wakil perdana menteri Inggris, menyatakan kondisi itu membuat perusahaan sulit mengklaim telah melakukan upaya maksimal dalam pembatasan usia.

Lanier juga menyinggung laporan riset eksternal pada 2019 yang dilakukan untuk Instagram. Studi itu menyebut sebagian remaja merasa sulit melepaskan diri dari platform tersebut meski memahami dampaknya terhadap kondisi emosional mereka.

Laporan tersebut menggambarkan pengalaman pengguna yang mirip dengan perilaku kecanduan, di mana penggunaan media sosial bisa memicu perasaan senang sekaligus tidak nyaman.

Di hadapan juri, Zuckerberg menyatakan bahwa dokumen-dokumen internal itu ditafsirkan secara keliru oleh pihak penggugat. Saat ditanya oleh pengacara Meta, Paul Schmidt, ia menekankan bahwa penelitian yang sama juga memuat temuan positif terkait penggunaan Instagram.

Schmidt menyebut riset tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan untuk memahami perilaku pengguna sekaligus meningkatkan kualitas layanan.

Selain itu, pengacara penggugat juga memperlihatkan laporan internal tahun 2018 yang membahas keberhasilan perusahaan mempertahankan pengguna usia pra-remaja atau kelompok 8–12 tahun di platformnya. Meski demikian, Meta menegaskan kelompok usia tersebut sebenarnya tidak diperbolehkan menggunakan layanannya.

Zuckerberg mengaku menyesal karena perusahaan tidak lebih cepat menemukan pengguna berusia di bawah 13 tahun. Namun ia menilai Meta kini sudah berada di jalur yang benar dalam menangani persoalan tersebut. Ia juga menyebut kontribusi pengguna remaja terhadap pendapatan iklan perusahaan kurang dari satu persen, serta menilai dokumen mengenai pengguna pra-remaja dipaparkan di luar konteks.

Ia menjelaskan Meta pernah membahas kemungkinan menghadirkan layanan khusus anak di bawah 13 tahun dengan pengawasan tertentu. Salah satu contoh yang disebutnya adalah layanan pesan anak yang memang dirancang untuk usia lebih muda.

Menurut Zuckerberg, produk tersebut tidak terlalu populer, meski ia sendiri menggunakannya bersama anak-anaknya. Ia dan istrinya, Priscilla Chan, diketahui memiliki tiga anak.

Lanier kemudian kembali mempertanyakan upaya perusahaan meningkatkan penggunaan platform oleh kalangan remaja. Ia menunjukkan sejumlah e-mail dan pesan internal yang membahas strategi meningkatkan keterlibatan pengguna muda.

Dalam salah satu e-mail tahun 2015, Zuckerberg disebut menetapkan target peningkatan waktu penggunaan hingga 12 persen sekaligus membalik tren penurunan jumlah pengguna remaja. Dokumen lain pada 2017 juga menyebutkan bahwa kalangan remaja menjadi prioritas utama perusahaan saat itu.

Zuckerberg membenarkan bahwa pada masa awal perusahaan memang terdapat target peningkatan waktu penggunaan. Namun ia menegaskan pendekatan Meta saat ini sudah berubah.

Menjawab pertanyaan Schmidt, ia menyatakan perusahaan tidak mungkin bertahan lama jika hanya berfokus pada metrik seperti durasi penggunaan. Ia juga mengatakan telah lama berupaya mengatasi penggunaan bermasalah pada platform seperti Instagram karena hal tersebut dinilai penting untuk dilakukan.

Schmidt selanjutnya menyinggung fitur Instagram yang diperkenalkan pada 2018, yang memungkinkan pengguna membatasi waktu harian, menerima pengingat durasi penggunaan, serta menonaktifkan notifikasi pada malam hari.

Namun Lanier menunjukkan dokumen internal yang memperlihatkan fitur tersebut jarang dimanfaatkan oleh remaja. Salah satu data menyebutkan hanya sekitar 1,1 persen pengguna remaja yang mengaktifkan pembatasan waktu penggunaan harian.

Sebelumnya, Kepala Instagram, Adam Mosseri, turut memberikan kesaksian di persidangan dan lebih dulu menyampaikan pembelaan terhadap platform yang dipimpinnya. Ia menegaskan bahwa intensitas penggunaan media sosial yang terlihat tinggi tidak serta-merta bisa dikategorikan sebagai kecanduan.

Pada awal keterangannya, Mosseri mengakui pandangan yang disampaikan pengacara Mark Lanier bahwa Instagram perlu melakukan berbagai langkah untuk memastikan keamanan pengguna, khususnya kalangan anak dan remaja. Meski demikian, ia menilai tidak ada ukuran pasti yang bisa dijadikan patokan untuk menentukan kapan penggunaan Instagram dapat dianggap berlebihan hingga masuk kategori adiksi.

Mosseri menekankan pentingnya membedakan antara kecanduan dalam arti medis dengan kebiasaan penggunaan yang hanya bermasalah.

“Hal yang penting adalah membedakan kecanduan secara klinis dengan penggunaan yang bermasalah,” ujarnya.

“Kita semua mungkin pernah mengatakan ‘kecanduan’ menonton serial di Netflix saat maraton sampai larut malam. Tapi menurut saya itu berbeda dengan kecanduan klinis,” ujar Mosseri. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN