Inovasi USAT Pertamina EP Rantau Tekan Loss Production dan Hemat Biaya Rig hingga 50 Persen

Inovasi USAT Perwira Pertamina EP Rantau Field mendapat penghargaan Platinum pada ajang Upstream Improvement & Innovasi Award (UIIA) 2025 Subholding Upstream Pertamina. (Foto: Pertamina EP Rantau Field)
Labuhanbatu, MISTAR.ID
Masalah kepasiran pada sumur-sumur minyak yang telah matang (mature well) kerap menjadi momok bagi kelancaran produksi migas. Menjawab tantangan tersebut, Pertamina EP (PEP) Rantau Field melahirkan inovasi USAT (Ultimate Sand Trap), sebuah teknologi aksesori pompa yang terbukti efektif menekan risiko kehilangan produksi (loss production).
Field Manager PEP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, menjelaskan bahwa inovasi USAT hadir dengan tujuan utama meningkatkan lifetime atau masa operasi pompa, khususnya jenis Electric Submersible Pump (ESP). Dari 87 sumur yang dikelola PEP Rantau, sebanyak 29 sumur bergantung pada pompa ESP yang rentan mengalami kerusakan akibat gesekan pasir.
USAT berfungsi sebagai pelindung mekanis yang dipasang di bagian tengah rangkaian tubing pompa. Teknologi ini dirancang untuk mengatasi fenomena fallback, yaitu kondisi ketika pasir jatuh kembali ke dalam sumur saat aliran fluida terhenti atau melambat.
“Aksesori USAT ini akan menahan pasir di dalam sumur yang mengalami fallback. Pasir tidak akan jatuh masuk ke dalam mesin pompa, melainkan tertahan pada sela antara USAT dan tubing. Dengan begitu, pompa tetap beroperasi dengan baik untuk mengalirkan minyak ke permukaan,” kata Tomi, Selasa (24/2/2026).
Selain melindungi dari sumbatan, USAT juga memungkinkan pompa melakukan reverse circulating saat terjadi penyumbatan, sehingga operasional sumur tidak perlu terhenti total.
Meski memiliki dampak ekonomi hingga miliaran rupiah, proses produksi USAT tergolong sangat efisien. Andi Surianto Sinurat, anggota tim pengembang dari Petroleum Engineering PEP Rantau Field, mengungkapkan bahwa biaya pembuatan satu unit USAT tidak sampai Rp3 juta.
“Biaya tersebut mencakup material seperti mata bor, tubing, kawat, serta tenaga kerja. Proses pengerjaannya pun singkat, hanya tiga hari, dengan estimasi masa pakai selama satu tahun,” ujar Andi.
Kalkulasi dampak inovasi ini sejak Januari 2024 hingga September 2025 menunjukkan hasil signifikan bagi perusahaan, yakni penghematan biaya rig hingga 50 persen, penurunan loss production sebesar 4 persen, serta tambahan pemasukan hingga miliaran rupiah melalui optimalisasi serapan minyak mentah (crude oil).
Keberhasilan USAT dalam mengatasi masalah kepasiran di sumur P-420, P-383, dan P-406 mengantarkan tim PC Prove Alumni Pasir meraih penghargaan Platinum pada ajang Upstream Improvement & Innovation Award (UIIA) 2025. Inovasi ini menyisihkan ratusan delegasi dari seluruh Subholding Upstream Pertamina.
Penerapan USAT yang melengkapi inovasi sebelumnya, We Are Fines, berhasil memangkas angka risiko kerusakan dari 62 persen menjadi jauh lebih rendah. PEP Rantau pun optimistis penghematan dan stabilitas produksi akan terus meningkat sepanjang 2026.
“Inovasi ini adalah bukti komitmen internal kami dalam mendukung target produksi nasional melalui kreativitas teknis yang tepat guna,” ujar Tomi.
PREVIOUS ARTICLE
Mark Zuckerberg Bantah Instagram Bikin Remaja KecanduanBERITA TERPOPULER























