Orang Tua Dilema Masukkan Anak ke Sekolah Berasrama, Ini Tanggapan Psikolog

Salah seorang anak SD di Sekolah Rakyat sedang mencuci tangan sebelum makan siang. (foto: susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID - Menyekolahkan anak ke sekolah berbasis asrama sejak usia Sekolah Dasar (SD) kerap menjadi dilema bagi para orang tua. Banyak yang merasa tidak tega dan menilai anak usia segitu masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian penuh dari orang tua secara langsung.
Jadi, sering kali opsi untuk memasukkan anak ke sekolah berasrama mulai dilirik ketika anak sudah memasuki jenjang SMP.
Hal ini juga terlihat dari jumlah siswa baru yang masuk di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Medan. SRT 2 Medan disebut memiliki masing-masing kuota sebanyak 90 siswa per jenjang mulai dari SD, SMP dan SMA. Namun, pendaftar pada jenjang SD hanya 60 orang, sehingga kuota tersebut dilimpahkan ke jenjang SMA yang jadi menerima 120 siswa.
Melihat fenomena ini, Mistar mencoba mengklarifikasi psikolog apakah ada dampak psikologis bagi anak jika sejak dini sudah harus terpisah dan hidup mandiri seperti tinggal di asrama.
Menjawab hal itu, Psikolog Anak dan Remaja, Katherina mengatakan pada dasarnya tidak ada usia yang tepat bagi anak untuk tinggal terpisah dari orang tuanya.
“Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa tidak hanya pada anak usia dini, bahkan pada anak remaja yang berpisah dengan keluarganya, akan menyebabkan dampak negatif pada kehidupan si anak kedepannya,” kata alumnus Universitas Sumatera Utara itu, Senin (20/7/2026).
Ia menjelaskan hal tersebut dikarenakan pemisahan antara orang tua dan anak dapat menimbulkan dampak fisiologis maupun dampak psikologis anak. Berpisah dengan orang tua, lanjutnya, menimbulkan stressor yang berat bagi anak sehingga menimbulkan trauma untuk anak.
Founder Pedia Clinic Cemara Asri Medan itu, menjelaskan banyak jurnal dan penelitian yang menjadi dasar dari hal ini. Berdasarkan data dari Society for Research in Child Development (2018), Katherina memaparkan bahwa efek dari parental separation (perpisahan dengan orang tuanya) dapat menyebabkan anak merasa cemas, depresi, menimbulkan PTSD (post traumatic stress disorder), sistem imun yang menurun, obesitas kecerdasan menurun dan sebagainya.
“Anak yang jika secara emosional belum siap untuk berpisah dengan orang tuanya akan mengalami gangguan kelekatan (attachment disruption),” tutur Katherina.
Beberapa gejala yang dapat muncul di antaranya anak menjadi tidak mudah percaya kepada orang lain, sulit mengontrol emosi atau cenderung mudah marah, menarik diri, pendiam atau malah sering terlihat memberontak dan menunjukkan kecemasan berlebih.
Jika berbicara tentang usia yang tepat untuk hidup terpisah dengan orang tua, Katherina menjelaskan biasanya dimulai pada remaja akhir. Sebab pada perkembangan ini, anak sudah lebih siap untuk pengembangan diri yang lebih baik.
“Misalnya mulai memiliki keinginan untuk hidup mandiri, mencari pasangan hidup, finansial yang lebih baik, lingkaran sosial yang saling mendukung, dan lain sebagainya,” ujar Katherina.
PREVIOUS ARTICLE
Hindari Tiga Jenis Alas Kaki Ini Saat Naik Pesawat
























