Tuesday, June 23, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Ilmuwan Temukan Spesies Hiu Baru yang Mampu "Berjalan" di Terumbu Karang Papua Nugini

Mistar.idSelasa, 23 Juni 2026 pukul 10.52 WIB
ilmuwan_temukan_spesies_hiu_baru_yang_mampu_berjalan_di_terumbu_karang_papua_nugini

Foto jarak dekat spesies hiu baru Hemiscyllium dudgeonae di habitat aslinya, di Papua Nugini. (foto: Live Science/Mistar)

news_banner

Papua Nugini, MISTAR.ID

Tim ilmuwan berhasil mengidentifikasi spesies hiu baru yang memiliki kemampuan unik, yakni berjalan di atas terumbu karang dangkal. Temuan tersebut menambah daftar keanekaragaman hayati laut yang masih terus terungkap di kawasan Pasifik.

Spesies yang termasuk kelompok hiu karpet berukuran kecil ini ditemukan saat para peneliti melakukan penyelaman malam di perairan tenggara Papua Nugini. Berbeda dengan hiu pada umumnya yang mengandalkan renang cepat, hiu ini menggunakan sirip dada dan sirip perutnya untuk merayap di atas dasar terumbu karang.

Peneliti senior dari University of the Sunshine Coast, Australia, Christine Dudgeon, mengaku langsung tertarik saat pertama kali melihat hiu bercorak bintik cokelat tersebut di antara bebatuan karang.

Setelah diperiksa lebih lanjut oleh mahasiswa doktoral sekaligus penulis utama penelitian, Jess Blakeway, diketahui pola tubuh hiu tersebut tidak sesuai dengan spesies yang sebelumnya sedang dicari tim.

Spesies baru itu kemudian diberi nama Hemiscyllium dudgeonae atau Hiu Berjalan Dudgeon sebagai penghormatan kepada Christine Dudgeon yang telah meneliti kelompok hiu tersebut selama dua dekade. Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam Journal of the Ocean Science Foundation.

Menurut Dudgeon, penemuan ini tergolong langka karena sebagian besar spesies ikan atau hiu baru biasanya ditemukan di perairan yang lebih dalam. Sementara itu, hiu berjalan Dudgeon justru ditemukan di habitat yang sangat dangkal, bahkan kurang dari satu meter.

Awalnya tim peneliti sedang mencari Hiu Berjalan Michael (Hemiscyllium michaeli). Namun, mereka menemukan perbedaan mencolok pada pola tubuh kedua spesies tersebut. Hiu Michael memiliki corak menyerupai macan tutul, sedangkan hiu baru ini ditandai garis-garis putih kecil dan bintik cokelat yang tersebar di seluruh tubuhnya.

Untuk memastikan temuan tersebut bukan sekadar variasi individu, para ilmuwan melakukan survei lanjutan. Dalam waktu dua hari, mereka menemukan 11 individu lain di tiga lokasi berbeda.

Kesamaan pola pada hiu jantan, betina, dewasa, maupun anakan memperkuat dugaan bahwa mereka telah menemukan spesies baru. Analisis DNA yang dilakukan di Australia kemudian mengonfirmasi temuan tersebut.

Kemampuan berjalan menjadi keunggulan penting bagi hiu ini saat air laut surut. Dengan bergerak di atas terumbu karang yang terisolasi, mereka tetap dapat mencari mangsa meski kondisi oksigen di lingkungan sekitar menurun drastis. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan kelompok hiu berjalan mampu bertahan selama berjam-jam di perairan dengan kadar oksigen rendah.

Hingga kini, Hiu Berjalan Dudgeon baru tercatat di tiga lokasi di Papua Nugini. Wilayah sebaran yang terbatas membuat spesies ini rentan terhadap kerusakan habitat, perubahan iklim, dan tekanan penangkapan ikan.

Para peneliti berencana melanjutkan survei untuk mempelajari lebih jauh perilaku hiu tersebut di habitat alaminya. Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa masih banyak kekayaan biodiversitas laut yang belum sepenuhnya terungkap.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN