Wednesday, August 26, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Ilmuwan Australia Ciptakan Baterai Kuantum Pertama Dunia, Beroperasi pada Suhu Kamar

Mistar.idKamis, 27 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB
ilmuwan_australia_ciptakan_baterai_kuantum_pertama_dunia_beroperasi_pada_suhu_kamar

Prototipe baterai kuantum. (foto: CSIRO via BBC)

news_banner

Canberra, MISTAR.ID - Para ilmuwan berhasil membuat prototipe baterai kuantum yang memiliki sifat unik: semakin besar ukurannya, semakin cepat pula proses pengisian dayanya.

Dilansir dari BBC, teknologi ini dikembangkan tim James Quach dari CSIRO, lembaga sains nasional Australia yang berbasis di Canberra. Pada Maret 2026, mereka mengumumkan prototipe baterai kuantum yang tidak hanya mampu menyerap dan menyimpan energi, tetapi juga menghasilkan arus listrik.

Berbeda dengan baterai konvensional yang mengandalkan reaksi kimia, baterai ini memanfaatkan efek kuantum bernama superabsorption.

Quach menggunakan dua cermin mikroskopis yang dipisahkan jarak sekitar 100 nanometer. Ruang di antaranya diisi molekul pewarna organik lalu ditembak laser.

Dalam kondisi kuantum, molekul-molekul tersebut dapat menyerap energi secara kolektif.

“Mereka bertindak serempak dan bersinergi, sehingga laju penyerapan energi meningkat seiring bertambahnya jumlah molekul,” kata Quach, dikutip dari BBC.

Akibatnya, semakin banyak molekul yang digunakan, semakin cepat energi dapat diserap. Prototipe tersebut bahkan dapat terisi dalam hitungan femtodetik atau sepersejuta miliar detik, meski energinya saat ini hanya mampu bertahan beberapa nanodetik.

Keunggulan lainnya, rancangan Quach dapat bekerja pada suhu ruangan. Sementara sejumlah desain baterai kuantum berbasis superkonduktor membutuhkan suhu di bawah minus 150 derajat Celsius.

“Ini tidak masalah untuk komputer kuantum, tetapi tidak terlalu berguna untuk memberi daya pada ponsel Anda,” ujar Quach.

Meski menjanjikan, baterai kuantum masih jauh dari penggunaan komersial. Kapasitas energinya sangat kecil dan tantangan utamanya adalah bagaimana menyimpan energi lebih lama serta mengeluarkannya kembali secara terkontrol.

Quach kini mengembangkan desain hibrida yang menggabungkan komponen kuantum untuk pengisian sangat cepat dengan lapisan konvensional untuk menyimpan energi lebih lama.

“Jika kami bisa melakukan dua hal tersebut, kami akan berada di jalur untuk dapat memberi daya pada perangkat konvensional,” katanya.

Namun, sejumlah ilmuwan masih skeptis. Dario Ferraro dari University of Genova menilai efek kuantum sangat rapuh dan mudah terganggu lingkungan.

“Interaksi dengan lingkungan dapat dengan cepat merusak efek kuantum, sehingga membatasi kinerja dan skalabilitas,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, teknologi ini dinilai lebih realistis digunakan untuk perangkat dan komputer kuantum. Sementara pemanfaatannya untuk ponsel atau kendaraan listrik masih dianggap spekulatif.

Fisikawan Mauro Paternostro dari Queen's University Belfast mengatakan terobosan sebenarnya baru akan terjadi jika peneliti mampu memanfaatkan kecepatan pengisian kuantum sekaligus mengeluarkan energinya dalam bentuk yang stabil dan berguna. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN