Haus Listrik Jumbo, Data Center AI Picu Kekhawatiran Dunia di Climate Week 2026

Visual ini menggambarkan data center raksasa dengan otak AI di atasnya yang menyedot energi jumbo dari Bumi yang retak dan panas, sementara energi terbarukan terlihat kecil di bawah, merepresentasikan paradoks dan kekhawatiran di Climate Week 2026. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Jakarta, MISTAR.ID (23/9/2026) - Teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pusat data (data center) menjadi topik panas dalam New York Climate Week 2026 karena haus listrik dan memicu kekhawatiran global.
Para pemimpin dunia memulai pembahasan pada Senin (21/9/2026) untuk mempercepat perbaikan Bumi dengan mengandalkan energi terbarukan. Diskusi ini merespons kondisi Bumi yang kian memburuk.
Setiap tahun, Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar New York Climate Week yang dihadiri pejabat tinggi pemerintah dan eksekutif bisnis. Forum ini rutin membahas pemanasan global, meski jarang berujung aksi nyata.
Melansir dari AP News, para ahli dan aktivis menilai pola pembahasan tanpa dampak tersebut harus berubah. Pemicunya adalah perkembangan pesat AI dan pusat data, kenaikan harga bahan bakar fosil akibat perang di Iran dan Ukraina, serta bencana akibat perubahan iklim yang mencapai tingkat kerusakan baru di Asia.
Laporan terbaru yang dirilis Senin (21/9/2026) oleh Planetary Boundaries Science Lab dari Potsdam Institute for Climate Impact Research di Jerman mengungkap dunia telah melampaui tujuh dari sembilan batas aman planet untuk Bumi yang sehat.
"Bumi sebagai pasien sedang tidak sehat," kata Direktur Potsdam Institute for Climate Impact Research Johan Rockström.
"Kita tidak hanya membahayakan stabilitas, ketahanan, dan sistem penopang kehidupan di Bumi, kita juga sangat dekat dengan ambang batas yang dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan dan tidak terkendali," tambahnya.
Menteri Luar Negeri Inggris Edward Miliband menegaskan transisi ke energi bersih dan terbarukan kini menjadi kewajiban untuk keamanan nasional.
"Krisis iklim harus menjadi isu bagi para menteri luar negeri, perdana menteri, serta menteri energi dan iklim. Begitu juga di kalangan keamanan dan pertahanan, bukan hanya di kalangan aktivis. Para jenderal juga harus terlibat, bukan hanya pegiat lingkungan," katanya.
AI dengan pusat data yang boros energi dan air dinilai paradoks karena dapat memperburuk atau justru menyelesaikan masalah iklim.
CEO Climate Group penyelenggara New York Climate Week Helen Clarkson menyebut dampak lingkungan AI dan pusat data sebagai topik yang sangat hangat.
"Kecerdasan buatan yang boros energi mendorong peningkatan polusi yang menyebabkan pemanasan global akibat batu bara, minyak, dan gas, sekaligus menaikkan biaya energi bagi rumah tangga dan bisnis," kata Kepala Bidang Iklim PBB Simon Stiell.
"Para pemimpin AI kini berada di posisi yang sulit dalam hal izin operasi dan semakin sulit meraih dukungan publik," imbuhnya.
Di sisi lain, Kepala Keberlanjutan perusahaan otomasi Jerman Siemens Eva Riesenhuber menilai AI sangat penting bagi umat manusia dan akan membantu mengatasi perubahan iklim.
"Kami berpacu untuk mengurangi dampak ini secepat mungkin karena kami bergantung pada kecerdasan buatan dan kami memang membutuhkannya untuk merancang masa depan yang dibutuhkan planet ini," ujarnya.
Wakil Presiden Bidang Energi dan Iklim Massachusetts Institute of Technology Evelyn Wang berpendapat pusat data yang menambah masalah iklim dan air bukan persoalan permanen.
Wang mengatakan pusat data membutuhkan sekitar lima tahun lagi untuk mencapai netralitas air dan sekitar satu dekade lagi untuk tidak lagi menambah emisi pemicu pemanasan global.
Sejumlah aksi protes terkait AI dikabarkan akan digelar sepanjang New York Climate Week.(CNN/hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Studi Ungkap Akson Otak Tak Selalu Berbentuk Tabung Halus









































