Tuesday, July 14, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Fosil Nenek Moyang Buaya Berusia 212 Juta Tahun Ditemukan

Mistar.idKamis, 28 Mei 2026 pukul 09.50 WIB
fosil_nenek_moyang_buaya_berusia_212_juta_tahun_ditemukan_

Ilustrasi. (foto: NHMLAC Dinosaur Institute/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Buaya modern identik dengan rahang besar, gigi tajam, dan tubuh panjang yang bergerak rendah di permukaan tanah atau air. Namun, penemuan terbaru para ilmuwan menunjukkan bahwa nenek moyang buaya ternyata pernah memiliki bentuk yang jauh berbeda.

Para paleontolog baru-baru ini mengidentifikasi spesies baru reptil purba yang hidup sekitar 212 juta tahun lalu. Hewan tersebut tidak memiliki gigi, berparuh, dan berjalan menggunakan dua kaki.

Dikutip dari IFLScience, spesies itu diberi nama Labrujasuchus expectatus atau dijuluki “Witch Croc” (Buaya Penyihir). Reptil ini merupakan anggota keluarga Shuvosauridae, kelompok reptil purba yang penampilannya justru lebih menyerupai dinosaurus theropoda dibandingkan buaya modern.

Nama Labrujasuchus berasal dari Ranchos de los Brujos atau “Peternakan Para Penyihir”, nama lama Ghost Ranch di New Mexico, Amerika Serikat, lokasi fosil tersebut ditemukan.

Menurut cerita lokal, nama tersebut digunakan para peternak pada masa lalu untuk menakut-nakuti pencuri ternak agar menjauh dari wilayah tersebut. Sementara nama expectatus berarti “yang diharapkan”, merujuk pada dugaan ilmuwan tentang adanya mata rantai fosil yang hilang di kawasan itu.

Salah satu hal paling menarik dari Labrujasuchus adalah keberadaan paruh tanpa gigi. Para peneliti menyebut kondisi tersebut sebagai contoh evolusi konvergen, yakni proses ketika makhluk hidup yang tidak berkerabat dekat mengembangkan ciri serupa karena menyesuaikan diri dengan lingkungan atau pola hidup tertentu.

Meski demikian, ilmuwan masih meneliti fungsi pasti paruh tersebut.

“Kami belum mengetahui secara pasti fungsi paruh Labrujasuchus. Namun, penelitian pada kerabat dekatnya menunjukkan rahang bawah kelompok shuvosaurid relatif lemah, sehingga kemungkinan mereka memakan tanaman atau vegetasi lunak,” ujar Nathan Smith dari Natural History Museum of Los Angeles County.

Penemuan ini juga memperlihatkan bahwa nenek moyang buaya pada era Trias memiliki bentuk dan gaya hidup yang sangat beragam.

Sebelum berevolusi menjadi predator air berkaki empat seperti saat ini, beberapa kerabat purba buaya diketahui hidup sebagai pelari cepat, penghuni pepohonan, hingga hewan bipedal atau berjalan dengan dua kaki.

Penulis utama penelitian dari Stony Brook University, Alan Turner, mengatakan kemampuan berjalan dengan dua kaki ternyata menjadi strategi bertahan hidup yang sukses pada masa itu.

“Bipedalisme memang jalur evolusi yang unik bagi kerabat buaya. Namun, strategi ini juga berhasil digunakan dinosaurus dan kemudian burung,” kata Turner.

Hasil penelitian mengenai Labrujasuchus expectatus telah dipublikasikan dalam Journal of Vertebrate Paleontology.

Penemuan tersebut menjadi hasil penting setelah tim peneliti melakukan penelitian selama dua dekade di kawasan Ghost Ranch. Para ilmuwan meyakini masih banyak spesies unik lain yang belum ditemukan di lokasi tersebut.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN