Sunday, June 28, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Sekolah Daring Kembali Digulirkan April 2026? Ini Kaitannya dengan Penghematan Energi Nasional

Mistar.idSenin, 23 Maret 2026 pukul 21.45 WIB
sekolah_daring_kembali_digulirkan_april_2026_ini_kaitannya_dengan_penghematan_energi_nasional

Ilustrasi, Sekolah Daring yang rencananya akan kembali digulirkan April 2026? (foto:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Pemerintah tengah mengkaji opsi penerapan kembali pembelajaran daring atau sekolah berbasis online mulai April 2026. Wacana ini mencuat bukan karena pandemi, melainkan sebagai bagian dari strategi efisiensi energi nasional di tengah tekanan global terhadap sektor energi.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa kebijakan efisiensi harus mempertimbangkan pengalaman Indonesia saat pandemi COVID-19.

“Langkah efisiensi harus disusun secara terukur dan berbasis data konsumsi energi serta tingkat mobilitas di masing-masing sektor, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif yang berlebihan bagi masyarakat,” ujar Pratikno, dikutip dari Antara, Senin (23/3/2026).

Pernyataan tersebut membuka ruang bahwa sektor pendidikan menjadi salah satu yang dikaji dalam upaya menekan konsumsi energi nasional.

Apa Itu Pembelajaran Daring?

Pembelajaran daring adalah metode belajar-mengajar yang memanfaatkan jaringan internet dan perangkat digital tanpa tatap muka langsung di ruang kelas.

Sistem ini pernah diterapkan secara masif saat pandemi COVID-19, ketika sekolah ditutup untuk menekan penyebaran virus. Dalam praktiknya, pembelajaran daring dilakukan melalui:

- Video conference secara langsung (real-time)

- Platform Learning Management System (LMS)

- Pengiriman materi dan tugas secara digital

- Diskusi melalui forum atau aplikasi pesan

Model pembelajaran ini bisa dilakukan secara penuh (100 persen daring) atau dikombinasikan dengan tatap muka dalam skema hybrid.

Mengapa Sekolah Daring Dikaji Kembali?

Berbeda dengan tahun 2020–2022 yang dipicu krisis kesehatan, kali ini pembelajaran daring dikaitkan dengan efisiensi energi.

Ada beberapa pertimbangan utama:

1. Menekan Mobilitas dan Konsumsi BBM

Aktivitas sekolah setiap hari melibatkan jutaan siswa, guru, dan tenaga kependidikan yang melakukan perjalanan. Mobilitas ini berdampak langsung pada konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

Dengan mengurangi frekuensi tatap muka, potensi penghematan energi dari sektor transportasi dinilai cukup signifikan.

2. Efisiensi Energi Gedung

Sekolah merupakan salah satu pengguna listrik dalam skala besar, mulai dari pencahayaan, pendingin ruangan, hingga perangkat elektronik. Pengaturan ulang sistem belajar dapat menekan penggunaan energi di fasilitas pendidikan.

3. Respons terhadap Tekanan Energi Global

Ketegangan geopolitik global berdampak pada stabilitas pasokan dan harga energi dunia. Pemerintah Indonesia pun menyiapkan langkah antisipatif agar konsumsi energi dalam negeri lebih terkendali.

Kapan Akan Diberlakukan?

Pemerintah mengkaji kemungkinan penerapan pembelajaran daring atau model hybrid mulai April 2026, setelah libur Lebaran.

Namun, kebijakan ini masih dalam tahap evaluasi dan belum bersifat final. Pemerintah menegaskan bahwa kualitas pendidikan tetap menjadi prioritas utama.

Mata pelajaran yang membutuhkan praktik langsung, seperti kegiatan laboratorium atau pembelajaran kejuruan, kemungkinan tetap dilakukan secara tatap muka.

Apakah Ini Akan Seperti Masa Pandemi?

Tidak sepenuhnya.

Jika pada masa pandemi pembelajaran daring dilakukan secara menyeluruh karena situasi darurat kesehatan, kini pendekatannya lebih selektif dan berbasis data.

Pemerintah disebut akan mengkaji:

- Tingkat konsumsi energi per sektor

- Dampak terhadap kualitas pembelajaran

- Kesiapan infrastruktur digital

- Kesenjangan akses internet di daerah.

Artinya, bukan sekadar kembali ke pola lama, melainkan mencari formula yang lebih adaptif.

Tantangan yang Harus Diantisipasi

Meski berpotensi menghemat energi, pembelajaran daring memiliki tantangan tersendiri:

- Kesenjangan akses internet di wilayah terpencil

- Beban biaya kuota bagi keluarga

- Risiko penurunan interaksi sosial siswa

- Kesiapan guru dalam mengelola pembelajaran digital

Pengalaman pandemi menjadi pelajaran penting bahwa kebijakan pendidikan berbasis daring harus disiapkan secara matang agar tidak memperlebar ketimpangan.

Kesimpulan: Pembelajaran daring kembali masuk dalam agenda kebijakan nasional, kali ini dalam konteks penghematan energi. Rencana yang dikaji untuk April 2026 menunjukkan bahwa sektor pendidikan menjadi bagian dari strategi besar efisiensi nasional.

Namun, pemerintah menegaskan langkah ini akan berbasis data dan tidak boleh mengorbankan kualitas pendidikan maupun hak belajar siswa.

Apakah sekolah daring akan benar-benar diterapkan kembali? Jawabannya masih menunggu keputusan final pemerintah dalam beberapa waktu ke depan.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN