Tuesday, July 7, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Pendidikan Indonesia Jangan Tunggu Rusak, Shohibul: Tumbuh Sebelum Patah

Mistar.idSabtu, 16 Mei 2026 pukul 09.38 WIB
pendidikan_indonesia_jangan_tunggu_rusak_shohibul_tumbuh_sebelum_patah

Pengamat sosial dan pendidikan Sumatera Utara, Shohibul Anshor Siregar. (foto:dokumen/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Pengamat sosial dan pendidikan Sumatera Utara, Shohibul Anshor Siregar, menegaskan pentingnya mengadopsi filosofi “Tumbuh Sebelum Patah, Berganti Sebelum Hilang” dalam sistem pendidikan nasional.

Hal itu dikatakannya menyikapi dunia pendidikan Indonesia yang dinilai harus segera melakukan perubahan progresif agar tidak tertinggal oleh derasnya perkembangan global.

Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya bersifat reaktif terhadap perubahan, tetapi harus mampu bergerak lebih cepat sebelum sistem yang ada menjadi usang dan kehilangan relevansi.

“Pendidikan kita tidak boleh menunggu rusak dulu baru diperbaiki. Kita harus tumbuh sebelum patah, melakukan inovasi sebelum sistem tak lagi relevan. Kita juga harus berganti sebelum hilang agar mampu bertahan di tengah disrupsi global,” ujar Siregar kepada Mistar, Sabtu (16/5/2026).

Ia menilai, jika pendidikan terus berjalan dengan pola lama tanpa pembaruan yang serius, Indonesia berpotensi menghadapi kekosongan generasi. Kondisi itu terjadi ketika generasi muda hidup dalam realitas baru yang tidak lagi dipahami oleh generasi sebelumnya.

“Kalau pendidikan stagnan, akan muncul kesenjangan besar antargenerasi. Generasi muda tidak mendapat bekal yang cukup menghadapi tantangan zaman, sementara generasi sebelumnya kesulitan memahami perubahan yang terjadi,” katanya.

Akademisi FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara itu juga menyebut bahwa kekosongan generasi dapat berdampak pada krisis kepemimpinan, menurunnya inovasi, hingga melemahnya daya saing bangsa di tingkat global.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya kemampuan membayangkan masa depan dalam dunia pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan lama, tetapi juga harus melatih imajinasi dan kesiapan menghadapi perubahan dunia beberapa dekade mendatang.

“Kalau pendidikan kita tidak tumbuh dan berganti, kita hanya akan melahirkan generasi yang tidak siap menghadapi masa depan. Akibatnya, Indonesia terus menjadi pengikut, bukan pelopor,” ucapnya.

Untuk mewujudkan perubahan tersebut, ia mengusulkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah menghadirkan kurikulum yang fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Kurikulum harus menjadi organisme hidup yang terus diperbarui, bukan dokumen mati,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pengembangan guru secara berkelanjutan agar para tenaga pendidik mampu mengikuti perkembangan teknologi dan metode pembelajaran terbaru.

Selain itu, ia mendorong masuknya literasi masa depan dalam pendidikan, mulai dari literasi digital, data, lingkungan, hingga etika teknologi. Ia juga meminta lembaga pendidikan memperkuat budaya riset dan inovasi melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah.

“Pendidikan juga harus dibangun secara holistik dengan memperhatikan aspek emosional, sosial, dan spiritual peserta didik. Manusia seutuhnya adalah kunci menghadapi ketidakpastian masa depan,” katanya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kegagalan melakukan transformasi pendidikan hanya akan membawa Indonesia semakin tertinggal.

“Jika kita tidak mulai tumbuh sebelum patah dan berganti sebelum hilang, maka kita akan menghadapi jurang ketertinggalan yang semakin dalam, dengan generasi yang tidak siap menghadapi tantangan zaman,” ujarnya. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN