Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Guru SD di Medan Dirikan TBM Teras Baca Agmarani, Jadi Penggerak Literasi dari Teras Rumah

Mistar.idSenin, 24 November 2025 pukul 15.37 WIB
guru_sd_di_medan_dirikan_tbm_teras_baca_agmarani_jadi_penggerak_literasi_dari_teras_rumah

Kegiatan membaca di TBM Teras Baca Agmarani. (foto:istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Selain berdedikasi sebagai guru di SD Negeri 068008 Medan, Mahniar Sinaga juga dikenal aktif menggerakkan literasi di masyarakat melalui inisiatifnya mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di lingkungan tempat tinggalnya.

Kepeduliannya ini dipicu oleh kesadaran bahwa guru harus menjadi model literasi bagi murid, sekaligus keresahan terhadap rendahnya indeks literasi di Sumatera Utara.

Titik awal TBM berdiri pada masa pandemi COVID-19. Mahniar melihat anak-anak di kompleksnya kehilangan momen interaksi dan mengeluh kesulitan mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk tanpa adanya pendampingan dan pemahaman yang memadai.

Merespons kondisi ini, Mahniar mulai membacakan buku untuk anak-anak itu, awalnya hanya untuk menemani putra-putrinya belajar. Ternyata mereka menikmati sesi tersebut dan justru meminta lagi esok harinya, bahkan datang sebelum pukul 09.00.

TBM yang ia beri nama Teras Baca Agmarani itu menerapkan filosofi literasi yang aktif, tidak hanya sekadar menyuruh anak membaca 15 menit.

Ia berupaya menjadikan anak sebagai pembaca aktif yang mampu menguliti isi buku dan berdiskusi. Selain itu, TBM ini memfasilitasi kebutuhan anak untuk melakukan kegiatan kreatif yang diminati, seperti meminta bimbingan membuat cerpen atau surat.

“Mereka perlu disentuh kebutuhan literasinya,” ucap Mahniar kepada Mistar, Senin (24/11/2025). Ia menyadari bahwa anak-anak membutuhkan ruang aman untuk mengeksplorasi minatnya.

Melihat antusiasme itu, ia mencetak cerita-cerita pendek dan meminjamkan buku yang ada di rumah.

“Anak-anak terus bertanya, ‘Ada buku lain nggak, Bun?’ Di situlah saya sadar bahwa kebutuhan literasi mereka jauh lebih besar,” tuturnya.

Mahniar lalu berburu buku murah di pasar buku bekas di Medan. Ia menata rak kecil di teras, dan membiarkan anak-anak membaca bebas tanpa penjagaan.

“Yang penting mereka bertanggung jawab merapikan sendiri. Dan itu tumbuh dengan sendirinya,” ucapnya.

Dari koleksi buku pribadi yang ia borong, kini TBM Teras Baca Agmarani telah berkembang pesat. Mahniar aktif mengikuti pelatihan dan bergabung di forum TBM, yang membukakan jalan rezeki. Melalui jejaring dan konsistensi, ia berhasil mendapatkan dukungan besar, termasuk hibah 1.000 buku dari Perpustakaan Nasional pada tahun 2024, serta CSR dari lembaga-lembaga swasta.

TBM yang ia bangun kini menjadi ruang belajar terbuka dari pagi hingga malam, terutama saat liburan. Anak-anak dari luar kompleks bahkan datang untuk ikut membaca atau berdiskusi. Fokus TBM pun berkembang, salah satunya literasi keuangan dan isu-isu aktual lain yang relevan bagi anak.

“Sekecil apa pun langkahnya, kalau konsisten, pasti berdampak. Saat ini anak-anak yang datang bisa sepuluh sampai dua puluhan orang. Kalau sedang ada acara, bisa penuh sampai tiga puluh anak,” ujar Mahniar.

Sementara teman Mahniar untuk menjalankan TBM itu ada sekitar empat orang, mulai dari anaknya hingga tetangga dan lurah. Bagi Mahniar, literasi bukan hanya urusan sekolah, tetapi urusan kemanusiaan. Mulai dari rumah, lalu ke lingkungan, dan akhirnya ke masyarakat yang lebih luas.

Menurutnya, upaya kolektif, konsistensi, dan komitmen para guru untuk terus belajar adalah kunci utama untuk meningkatkan relevansi pendidikan dan memerangi masalah sosial, seperti hoaks dan bullying, yang berakar dari ketajaman literasi. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN