Wednesday, July 15, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Ini Peran dan Independensi Jurnalisme dalam Peliputan Isu Sensitif

Mistar.idRabu, 15 Juli 2026 pukul 14.39 WIB
ini_peran_dan_independensi_jurnalisme_dalam_peliputan_isu_sensitif

Yusuf Priambodo. (Foto: Naomi/Mistar)

news_banner

Bandung, MISTAR.ID - Penting menjaga independensi dalam meliput isu-isu sensitif, sekaligus memahami batasan yang muncul ketika bekerja di bawah institusi media.

Hal ini disampaikan Yusuf Priambodo, jurnalis lingkungan sekaligus salah satu pembuat film dokumenter Ekspedisi Indonesia Baru bersama Dhandy Laksono, dalam sesi diskusi mengenai peliputan isu lingkungan dan isu sensitif di Kampung Stamplat Girang, Rancabali, Bandung, Rabu (15/7/2026).

Menurut Yusuf, ruang gerak jurnalis dipengaruhi oleh statusnya. Seorang jurnalis independen memiliki keleluasaan lebih dalam mengangkat isu-isu yang dianggap sensitif. Sementara itu, jurnalis yang bekerja di media arus utama tetap harus mengikuti kebijakan redaksi tempatnya bernaung.

"Kalau bekerja untuk media mainstream, kita tetap mengikuti aturan media tersebut. Karena pada akhirnya, tanggung jawab tulisan berada pada platform tempat berita itu diterbitkan, dan pemimpin redaksi memiliki hak prerogatif untuk menentukan apakah sebuah berita layak dipublikasikan atau tidak," jelasnya.

Meski demikian, Yusuf mendorong jurnalis independen untuk tetap memiliki afiliasi dengan organisasi profesi, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Menurutnya, keberadaan organisasi tersebut tidak hanya memperkuat kredibilitas jurnalis, tetapi juga menjadi jaringan pendukung ketika menghadapi tekanan atau risiko selama peliputan.

Dalam peliputan isu sensitif, Yusuf juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap narasumber. Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah menyamarkan identitas narasumber apabila mereka menghendakinya. Langkah ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko intervensi maupun intimidasi dari aparat atau pihak lain yang berkepentingan.

Ia menambahkan, membangun kepercayaan narasumber tidak dapat dilakukan secara instan. Pendekatan personal dan peliputan jangka panjang menjadi kunci agar narasumber bersedia membuka informasi secara lebih mendalam.

"Kalau ingin mendapatkan cerita yang utuh, kita harus hadir di tengah kehidupan mereka. Ikuti aktivitas kesehariannya, tinggal bersama mereka jika memungkinkan. Dari situ, kepercayaan akan tumbuh dan fakta-fakta yang sebelumnya tertutup bisa muncul," ujarnya.

Selain membahas teknik peliputan, Yusuf juga menyinggung strategi penyajian konten di era digital. Menurutnya, perhatian audiens harus dibangun sejak awal melalui hook yang kuat untuk memancing rasa penasaran.

Konten juga dapat dikemas dengan memanfaatkan momen yang sedang menjadi perhatian publik atau menggunakan format reaction untuk menyoroti isu tertentu tanpa menghilangkan substansi informasi.

"Jurnalisme hari ini harus menyuarakan mereka yang sedikit atau bahkan tidak memiliki ruang untuk bersuara. Di situlah fungsi advokasi dan keberpihakan kepada kepentingan publik menjadi penting," ujarnya. (hm25/naomi)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN