Monday, July 20, 2026
home_banner_first
NASIONAL

BRIN Tunjuk Joko Widodo Jadi Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Bencana

Mistar.idSenin, 1 Desember 2025 pukul 14.49 WIB
brin_tunjuk_joko_widodo_jadi_ketua_gugus_tugas_penanggulangan_bencana_

Penanganan bencana di Sumatera Utara (Sumut). (foto: Humas Polri/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membentuk Task Force Penanggulangan Bencana guna mempercepat dukungan ilmiah terhadap penanganan banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh. Gugus tugas ini dikomandoi oleh Joko Widodo, yang ditunjuk sebagai Ketua.

Joko Widodo menyampaikan bahwa BRIN bergerak cepat memastikan seluruh kemampuan riset dan teknologi lembaga tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu pemulihan pascabencana.

“BRIN hadir dengan pendekatan ilmiah. Semua sumber daya riset, teknologi, dan SDM kami optimalkan untuk membantu masyarakat,” ujarnya dikutip dari Antara, Senin (1/12/2025).

Task force tersebut mengaktifkan berbagai unit reaksi cepat, mulai dari pemetaan satelit, penyediaan air bersih dan air siap minum, hingga mobilisasi tenaga kesehatan dan dukungan psikososial. Jokowi menjelaskan bahwa tim pengolah data satelit BRIN sejak awal telah memetakan area terdampak banjir menggunakan radar Sentinel-1, yang mampu menembus awan dan hujan.

Hasil pemetaan tersebut menunjukkan sebaran banjir di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Data itu sudah disampaikan kepada pemerintah daerah, BNPB, serta komunitas geospasial sebagai dasar pengambilan keputusan di lapangan.

Ia menambahkan, BRIN juga mempercepat pengecekan unit Air Siap Minum (Arsinum) untuk memastikan pasokan air bersih bagi masyarakat terdampak.

Korban Bencana Terus Bertambah

BNPB melaporkan jumlah korban meninggal akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat telah mencapai 442 jiwa hingga Senin (1/12/2025).

Sementara itu, 402 orang masih dinyatakan hilang.

Kepala BNPB Suharyanto menegaskan pemerintah memprioritaskan penanganan para pengungsi dan percepatan pemulihan. “Penanganan warga terdampak dan pemulihan daerah menjadi prioritas utama kami,” kata Suharyanto.

Penyebab Bencana: Kombinasi Siklon dan Kerusakan Lingkungan

Dari sisi ilmiah, Universitas Andalas (UNAND) tengah meneliti fenomena siklon tropis tidak lazim yang memicu bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat. Penelitian dilakukan bersama peneliti dari Polandia, Brunei Darussalam, dan BMKG.

Ketua LPPM UNAND, Marzuki, menjelaskan siklon jarang terbentuk di wilayah dekat khatulistiwa karena gaya coriolis yang sangat kecil. Namun, fenomena kali ini berbeda, siklon muncul di kawasan sempit seperti Selat Malaka, bukan di lautan luas sebagaimana biasanya.

Marzuki menambahkan, kerusakan parah yang terjadi bukan hanya akibat cuaca ekstrem, tetapi juga karena kondisi lingkungan yang sudah terganggu. “Hujan lebat memicu banjir, tetapi kerusakan besar—seperti jembatan putus, kayu hanyut, dan berubahnya alur sungai—bukan semata-mata faktor iklim,” katanya.

Guru besar Ilmu Fisika itu menuturkan sungai memiliki jalur alami. Ketika jalur tersebut berubah akibat aktivitas manusia, risiko bencana ikut meningkat. “Alam selalu mencari jalannya. Setiap intervensi manusia akan berpengaruh pada bagaimana air mengalir,” tuturnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN