Ramadan, Lomang Panas Jaya Medan Raup Ramainya Pembeli Lemang Tradisional

Beberapa karyawan Lomang Panas Jaya sedang memasak lemang bambu (foto: Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Suasana Ramadan selalu membawa kerinduan akan kampung halaman. Rasa itulah yang mendorong ramainya pembeli lemang di Lomang Panas Jaya, yang berlokasi di Jalan Flamboyan Raya, Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan.
“Biasanya kalau bulan puasa atau Ramadan, produksi sekitar 250 bambu per hari,” ujar Davi, pengusaha Lomang Panas Jaya.
Menurutnya, ramainya pembeli tidak lepas dari kesan lemang sebagai makanan kampung yang membangkitkan kenangan.
“Mungkin karena lemang ini makanan kampung ya, makanya ramai. Orang-orang kangen suasana kampung, datang lah orang-orang dari jauh,” kata pria berusia 33 tahun itu.
Lemang yang dijual terbuat dari beras pulut atau ketan dicampur santan, diberi sedikit garam, dan dimasukkan ke dalam bambu dengan ukuran seragam. Bambu-bambu itu kemudian dimasak secara tradisional dengan cara dibakar selama kurang lebih dua jam.
Setiap batang lemang dijual seharga Rp40 ribu dan sudah termasuk selai srikaya yang manis. Selain itu, tersedia juga selai durian dan lemang kuning khas Karo jika ada pesanan khusus.
Untuk memproduksi sekitar 250 bambu lemang per hari, dibutuhkan kurang lebih 50 kilogram beras pulut dan 50 butir kelapa. Produksi dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari.
Davi berharap penjualan lemang tahun ini meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun, menurutnya, lonjakan pembeli biasanya baru terasa di pertengahan Ramadan.
“Biasanya memang begitu, di pertengahan Ramadan puncak ramainya,” tutur Davi.
Usaha Lomang Panas Jaya sendiri telah berdiri sejak tahun 2007 dan masih dikelola generasi pertama, yaitu orang tua Davi. Davi mengaku hanya membantu usaha yang dirintis orang tuanya.
“Masih generasi pertama, orang tua saya. Saya ngikut-ngikut aja,” ucapnya sembari tertawa kecil.
Meski sempat membuka hingga empat cabang, Davi mengaku para pelanggan tetap memilih datang ke lokasi utama Lomang Panas Jaya.
“Orang-orang masih saja tetap balik ke sini, karena ini yang sudah dikenal,” katanya.
Biasanya, mereka hanya mempekerjakan 10 karyawan. Tetapi pada momen hari besar seperti Ramadan, jumlahnya bertambah menjadi 15 orang karena penjualan akan jauh lebih meningkat dibanding hari biasa.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER


















