Saturday, July 18, 2026
home_banner_first
MEDAN

PWI: Jurnalis Harus Kreatif dan Cepat Membaca Situasi

Mistar.idJumat, 29 Mei 2026 pukul 15.41 WIB
pwi_jurnalis_harus_kreatif_dan_cepat_membaca_situasi

Direktur UKW PWI, Aat Surya Safaat. (Foto: tangkapan layar/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aat Surya Safaat, menekankan pentingnya kreativitas, kemampuan membaca situasi, dan kecepatan berpikir bagi seorang jurnalis di tengah perubahan dunia jurnalistik yang semakin dinamis.

Hal itu disampaikannya saat memberikan materi dalam kegiatan pra-Uji Kompetensi Wartawan (UKW) daring yang digelar PWI Sumatera Utara bekerja sama dengan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Utara (Sumut) melalui virtual zoom meeting, Jumat (29/5/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari persiapan pelaksanaan UKW pada 2-3 Juni 2026 guna meningkatkan kompetensi dan profesionalisme wartawan di era digital.

Dalam pemaparannya, jurnalis senior Indonesia itu menegaskan tantangan pers saat ini semakin kompleks. Wartawan tidak hanya bersaing dengan sesama media, tetapi juga harus mampu menghadapi derasnya arus informasi digital serta perubahan pola konsumsi berita masyarakat.

“Seorang jurnalis tidak cukup hanya bisa menulis berita. Mereka juga harus kreatif, cepat membaca situasi, dan mampu melihat peluang informasi dari berbagai sudut pandang,” ujarnya dalam memberikan arahan.

Menurutnya, kreativitas dalam jurnalistik bukan sekadar membuat tulisan menarik, tetapi juga kemampuan membaca momentum dan menemukan pendekatan berbeda untuk memperoleh informasi.

Ia kemudian mengutip prinsip strategi yang sering digunakan dalam berbagai bidang, yakni “If you want peace, prepare for war” atau “Jika ingin damai, bersiaplah untuk perang”. Menurutnya, prinsip tersebut relevan dengan profesi wartawan yang dituntut selalu siap sebelum turun ke lapangan.

Persiapan yang dimaksud meliputi pemahaman isu, penguasaan data, hingga strategi memperoleh informasi lebih cepat dibandingkan wartawan lain.

“Wartawan yang siap akan lebih optimis menghadapi tekanan kerja, tenggat waktu, dan persaingan media,” katanya.

Ia menilai kesiapan mental dan intelektual menjadi modal penting agar jurnalis lebih percaya diri menghadapi dinamika dunia jurnalistik yang penuh tekanan.

Aat juga membagikan pengalaman saat meliput Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, ketika bertugas di Washington DC, Amerika Serikat.

Kala itu, Habibie menghadiri agenda bersama para eksekutif Boeing. Di tengah persaingan ketat antarwartawan untuk mendapatkan informasi eksklusif, Aat mencoba membaca situasi secara berbeda. Ia memprediksi Habibie akan menuju toilet karena cuaca dingin. Prediksi tersebut ternyata benar.

Aat kemudian bergerak cepat menuju lokasi dan berhasil memperoleh wawancara singkat sebelum wartawan lain mendapatkan kesempatan.

“Kisah itu menunjukkan pentingnya insting jurnalistik dan kemampuan membaca situasi. Kadang peluang berita datang dari hal-hal yang tidak dipikirkan orang lain,” tuturnya.

Selain kreativitas, Aat juga menekankan pentingnya pengembangan kapasitas diri. Mengutip tokoh dunia Nelson Mandela, ia menyebut perubahan nasib sangat bergantung pada diri sendiri dan institusi tempat seseorang bekerja.

Menurutnya, wartawan yang memiliki keinginan berkembang akan terus belajar, meningkatkan keterampilan, serta menjaga integritas profesi.

“Wartawan tidak boleh berhenti belajar. Dunia jurnalistik terus berkembang, mulai dari teknik penulisan, pemanfaatan teknologi digital, hingga kemampuan memahami data dan media sosial,” katanya.

Ia menambahkan, semakin luas wawasan seorang wartawan, semakin besar pula peluang yang dapat diraih di masa depan.

Dalam kegiatan pra-UKW tersebut, peserta juga mendapatkan materi dasar mengenai Standar Kompetensi Wartawan (SKW), Kode Etik Jurnalistik, Pedoman Pemberitaan Ramah Anak, serta Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Organisasi, Djoko Tetuko Abd. Latif, menegaskan kompetensi dan etika merupakan fondasi utama profesi jurnalistik.

Kegiatan pra-UKW ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan profesionalisme wartawan di Sumatera Utara di tengah tantangan industri media yang terus berkembang.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN