Psikolog Soroti Bahaya Gadget pada Anak, Dukung Pembatasan Lewat PP Tunas

Psikolog Irna Minauli saat diwawancarai. (foto: Susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pembatasan penggunaan media sosial dan gadget pada anak dinilai penting untuk mencegah berbagai dampak negatif, mulai dari penurunan kemampuan fokus hingga terganggunya perkembangan motorik.
Psikolog Sumatera Utara (Sumut) Irna Minauli menilai kebijakan seperti Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) menjadi langkah yang perlu didukung, serta harus diiringi peran aktif orang tua.
Pemilik Minauli Consulting itu menyebut pembatasan tersebut seharusnya sudah dimulai sejak usia dini. Ia menegaskan bahwa anak usia di bawah dua tahun idealnya tidak terpapar gadget sama sekali. Namun saat ini, masih ada saja yang memberikan anaknya mengenal dunia gawai sejak dini dengan alasan video call atau foto-foto.
“Secara teori harusnya dari usia 0 sampai 2 tahun itu 0 menit (terpapar gadget). Artinya tidak boleh ada sama sekali paparan handphone atau gadget lainnya termasuk screen time untuk nonton televisi,” ujarnya saat ditemui Mistar, Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan, setelah usia dua tahun, penggunaan gadget pun harus tetap dibatasi. Anak usia 2 hingga 6 tahun, kata Irna, sebaiknya hanya terpapar maksimal satu jam, sementara pada usia sekolah hingga remaja tidak lebih dari dua jam. “Karena kalau sudah sampai tiga jam, itu biasanya sudah mengarah ke kecanduan. Maka itu yang harus djaga,” katanya.
Menurut Irna, penggunaan gadget dan media sosial yang berlebihan berdampak luas, tidak hanya pada aspek akademik tetapi juga sosial. Ia menilai anak yang terlalu sering terpapar layar cenderung memiliki rentang perhatian yang rendah, mudah bosan, dan sulit fokus. Selain itu, interaksi sosial juga berkurang karena anak lebih asyik dengan dunianya sendiri.
Ia juga menyoroti dampak lain yang jarang disadari, yakni keterlambatan perkembangan motorik. Berdasarkan temuan yang ia sampaikan, anak-anak yang terlalu sering menggunakan gadget bisa mengalami ketertinggalan kemampuan fisik. Irna mencontohkan, ada anak usia 12 tahun yang ternyata kemampuan motoriknya setara dengan anak usia 6 tahun.
Baca Juga: Trik Menghadapi Anak Tantrum karena Gadget
Selain itu, Irna mengingatkan bahwa paparan konten digital, termasuk permainan berbasis kekerasan, dapat membuat anak mengalami desensitisasi atau penurunan kepekaan terhadap kekerasan. Hal ini dinilai berbahaya karena kekerasan bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Meski demikian, ia menekankan pembatasan saja tidak cukup tanpa diiringi pola asuh yang tepat. Ia menilai masih banyak orang tua yang justru menjadikan gadget sebagai alat untuk menenangkan anak, bahkan tanpa disadari memberikan contoh yang kurang baik.
Irna juga menyoroti fenomena orang tua yang kurang terlibat karena kesibukan dengan perangkat digital, sehingga interaksi dengan anak menjadi terbatas. Kondisi ini dinilai dapat mempengaruhi kedekatan emosional dalam keluarga.
“Orang tua juga harus memberikan contoh, supaya anak-anak punya role model. Jangan saat bersama anak malah sibuk dengan handphone,” tuturnya.
Sebagai alternatif, ia mendorong orang tua untuk mengajak anak melakukan aktivitas fisik dan permainan tradisional yang dapat melatih keseimbangan dan kemampuan motorik. Menurutnya, aktivitas seperti berjalan kaki, berolahraga, atau memanjat pohon hingga permainan sederhana justru lebih bermanfaat bagi perkembangan anak.
“Jadi saya memang setuju ya, bahwa perlu pembatasan penggunaan handphone pada anak-anak,” ucapnya.
BERITA TERPOPULER























