Trik Menghadapi Anak Tantrum karena Gadget

Ilustrasi. (Foto: Ibu dan Balita)
Jakarta, MISTAR.ID
Banyak orang tua menghadapi situasi ketika anak marah, menangis, atau berteriak saat waktu bermain gadget dihentikan. Psikolog Eka Renny Yustisia menjelaskan, kebiasaan terpapar konten digital membuat otak anak terbiasa dengan lonjakan cepat hormon dopamin. Saat akses ke gadget dihentikan mendadak, hal itu bisa memicu reaksi emosional yang cukup kuat.
Menurutnya, penggunaan gadget yang berlebihan menciptakan pola stimulasi tinggi. Video pendek, gim interaktif, hingga media sosial memberi sensasi instan yang membuat anak ingin terus mengulangnya. Ketika dihentikan tiba-tiba, kondisi ini dapat memicu reaksi mirip gejala “putus kebiasaan”.
Respons yang muncul bisa berupa marah, menangis, sulit ditenangkan, hingga menolak berkomunikasi. Dalam kondisi ini, tantrum bukan sekadar bentuk pembangkangan, tetapi juga karena anak belum mampu mengelola rasa kecewa dan frustrasi.
Salah satu langkah yang disarankan adalah memvalidasi emosi anak.
“Kami menyarankan orang tua untuk memvalidasi emosi anak tanpa membenarkan perilaku. Orang tua perlu menunjukkan empati dengan memahami perasaan anak agar sistem emosinya perlahan menjadi lebih tenang,” ujar Eka, dilansir dari Kompas.com.
Orangtua bisa menunjukkan pemahaman tanpa membenarkan amarah berlebihan, misalnya dengan mengatakan bahwa anak memang masih ingin bermain dan merasa kesal. Pendekatan ini membantu anak merasa didengar, sehingga emosinya lebih cepat mereda. Setelah itu, barulah alasan pembatasan gadget dijelaskan.
Pendekatan ini penting karena anak cenderung sulit menerima aturan saat emosinya sedang memuncak.
Selain itu, orangtua disarankan tidak menghentikan penggunaan gadget secara tiba-tiba.
“Orang tua disarankan menerapkan teknik transisi dengan memberikan batas waktu secara bertahap sebelum anak berhenti menggunakan gawai,” ujarnya.
Misalnya, beri pemberitahuan lima hingga sepuluh menit sebelum waktu bermain selesai. Kebiasaan ini bisa diperkuat dengan rutinitas, seperti berhenti setelah satu video atau satu permainan selesai.
Psikolog juga menekankan pentingnya aturan detoks digital yang berlaku bagi seluruh anggota keluarga. Anak akan lebih mudah menerima batasan jika melihat orangtua menerapkannya, seperti tidak menggunakan gadget saat makan atau menjelang tidur.
Sebagai alternatif, orangtua perlu menawarkan aktivitas pengganti yang menarik, seperti olahraga ringan, menggambar, atau permainan bersama keluarga. Kegiatan ini membantu menyeimbangkan emosi sekaligus mengurangi ketergantungan pada layar.
Selain durasi, jenis konten juga perlu diawasi. Konten dengan stimulasi cepat dapat membuat anak semakin sulit lepas dari gadget. Karena itu, pemilihan konten yang sesuai usia menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan perkembangan anak. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Pasien IGD RSUP H Adam Malik Meningkat Selama Libur LebaranBERITA TERPOPULER























