Monday, June 15, 2026
home_banner_first
MEDAN

Orangutan Sumatera Dievakuasi dari Perladangan Langkat, Kembali ke TN Gunung Leuser

Mistar.idSabtu, 25 April 2026 10.56
journalist-avatar-top
SH
orangutan_sumatera_dievakuasi_dari_perladangan_langkat_kembali_ke_tn_gunung_leuser

Proses evakuasi seekor Orangutan Sumatera dari perladangan warga ke hutan primer Resor Cintaraja, TNGL (foto:Dokumentasi BBKSDA Sumut/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Seekor Orangutan Sumatera (Pongo abelii) jantan yang sempat berada di area perladangan warga di Desa Karya Jadi, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, berhasil dievakuasi dan dipindahkan ke habitat alaminya di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Evakuasi dilakukan pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan tim Human Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) YOSL–OIC, setelah adanya laporan masyarakat terkait keberadaan satwa tersebut di sekitar perladangan.

Kepala Bagian Tata Usaha BBKSDA Sumatera Utara, Andar Abdi Saragih, menceritakan bahwa peristiwa ini bermula pada 20 April 2026 ketika tim HOCRU YOSL–OIC melakukan monitoring dan menerima informasi dari warga bahwa orangutan kerap turun ke gubuk serta berada di sekitar kebun karet dan sawit muda.

Warga mengaku khawatir karena satwa itu berpotensi terpapar racun pertanian atau terkena aktivitas pemburu babi di lokasi tersebut. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim segera berkoordinasi dan turun ke lokasi pada 21 April 2026.

“Di lapangan, petugas menemukan satu individu orangutan berada di area hutan yang terisolasi di tengah perladangan karet yang dikelilingi tanaman sawit muda,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/4/2026).

Proses evakuasi dilakukan dengan pembiusan oleh dokter hewan menggunakan dosis terukur. Setelah diamankan, orangutan diperiksa kesehatannya dan dinyatakan dalam kondisi baik. Satwa tersebut diketahui berjenis kelamin jantan dengan perkiraan usia sekitar 25 tahun dan berat kurang lebih 60 kilogram. “Kondisinya sehat, tidak ada luka atau cacat,” tuturnya.

Berdasarkan hasil koordinasi, orangutan kemudian direkomendasikan untuk segera dipindahkan ke habitat yang lebih aman pada hari yang sama. Lokasi pelepasliaran ditetapkan di hutan primer Resor Cintaraja, TNGL.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran tidak mudah karena tim harus menyeberangi sungai dan mengangkut satwa menggunakan rakit. Setibanya di lokasi, petugas membuka kandang dan orangutan langsung keluar, memanjat pohon, lalu menghilang di dalam hutan. Jarak antara lokasi evakuasi dan pelepasliaran mencapai sekitar 14 kilometer.

Andar mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk respons cepat kolaborasi dalam menangani potensi konflik antara manusia dan satwa liar. “Dan juga merupakan upaya penyelamatan satwa liar dilindungi, agar dapat kembali hidup aman di habitat alaminya,” tuturnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN