Mahasiswa Bahas Reformasi Jilid II, Tekankan Solusi Nyata Bukan Sekadar Kritik Semata

Foto bersama usai diskusi publik (foto:istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID (4/7/2026) – Presiden Mahasiswa DEMA UIN Sumatera Utara, Fathi Farich Hasibuan mengatakan bahwa slogan Reformasi Jilid II harus mampu membawa perubahan yang nyata, bukan sekadar slogan semata. Hal itu disampaikannya dalam Diskusi Publik Nasional yang digelar bersama BEM se-Sumut.
Menurutnya, kampus juga harus bekerja sama, menjadi ruang lahirnya ide dan gagasan yang konstruktif.
“Mahasiswa punya tanggung jawab moral untuk mengawal demokrasi, lewat gagasan dan berpedoman pada konstitusi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/7/2026).
Hal yang sama juga disampaikan oleh Menteri Koordinator Pergerakan BEM USU, Muhammad Thoriq. Reformasi Jilid II tidak boleh berhenti pada aksi-aksi simbolik dengan menyampaikan kritikan, tetapi juga mampu melahirkan berbagai solusi yang dibutuhkan oleh bangsa.
“Kritik memang penting, tapi perubahan dapat terjadi kalau mahasiswa mampu memberikan jalan keluar bagi persoalan yang dihadapi bangsa ini,” tutur Thoriq.
Sementara itu, dosen FISIP USU, Warjio memaparkan bahwa Reformasi 1998 telah berhasil membangun demokrasi secara prosedural. Tapi sampai saat ini Indonesia masih menghadapi berbagai macam tantangan.
“Indonesia masih menghadapi persoalan serius, di antaranya lemahnya penegakan hukum, pemberantasan korupsi dan kualitas demokrasi yang perlu ditingkatkan,” katanya menjelaskan.
Dari sisi hukum, TS. Hamonangan Daulay menjelaskan pentingnya pembaruan hukum yang berorientasi pada penguatan independensi lembaga negara, agar keadilan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kita harus memaknai Reformasi Jilid II ini sebagai upaya untuk memperkuat demokrasi, supremasi hukum dan mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas tinggi,” ucapnya. (*)





















