Konsorsium PERMAMPU: Perempuan dan Anak Rentan Jadi Korban Berganda dalam Bencana

Perempuan melihat kondisi dampak bencana Sumatera. (foto: Dokumentasi Pesada/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Konsorsium PERMAMPU menyoroti kondisi perempuan, anak-anak, lansia, serta penyandang disabilitas yang kerap menjadi korban berganda dalam situasi bencana. Selain kehilangan harta benda, kelompok rentan tersebut juga menghadapi dampak psikososial yang lebih berat.
Dalam bencana, mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan, tetapi juga mengalami keterbatasan akses terhadap air bersih, layanan kesehatan, serta kebutuhan kesehatan reproduksi yang kerap terabaikan di lokasi pengungsian.
Hal tersebut disampaikan dalam diskusi catatan akhir tahun 2025 yang digelar Konsorsium PERMAMPU. Pengalaman lapangan dari organisasi anggota seperti Flower Aceh, PESADA Sumatera Utara, dan LP2M Sumatera Barat menunjukkan bahwa perempuan sering menjadi penopang utama keluarga di tengah krisis, meskipun mereka sendiri berada dalam kondisi rentan dan mengalami trauma mendalam.
“Mendengar berbagai kisah dari perempuan dampingan, kami menegaskan kembali pentingnya pendampingan untuk memperkuat resiliensi perempuan dan kelompok rentan sebagai kunci pemulihan serta pencegahan bencana di masa depan,” ujar Koordinator PERMAMPU, Dina Lumban Tobing, dalam siaran pers yang diterima Mistar, Selasa (23/12/2025).
Melalui jaringan anggotanya, Konsorsium PERMAMPU telah melakukan berbagai upaya respons, antara lain memastikan keselamatan staf, kader, dan anggota dampingan, melakukan asesmen cepat berperspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), membuka layanan aduan bagi korban kekerasan di pengungsian, menyalurkan bantuan pangan melalui kelompok Credit Union, serta menggalang dana internal dan eksternal.
Dina mengungkapkan, dalam pertemuan tersebut terungkap banyak kisah pilu dari para pengungsi korban banjir di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. “Ada cerita kehilangan, trauma, hingga perjuangan bertahan hidup yang sangat berat, bahkan ada yang terpaksa mengonsumsi air bercampur lumpur,” katanya.
Dalam rangkaian peringatan Hari Pergerakan Perempuan Indonesia pada 22 Desember 2025, PERMAMPU juga menyampaikan sejumlah pesan penting terkait penanganan bencana di Sumatera. Di antaranya adalah perlunya melanjutkan respons tanggap darurat dengan pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan dan kelompok rentan, termasuk dukungan psikososial, akses hygiene kit, serta layanan kesehatan reproduksi.
Selain itu, PERMAMPU menekankan pentingnya penguatan resiliensi berbasis GEDSI melalui keluarga pembaharu, peningkatan akses layanan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) pascabencana, pendampingan perempuan korban kekerasan, serta kampanye pencegahan perkawinan anak yang berpotensi meningkat setelah bencana.
Konsorsium PERMAMPU juga mendorong peningkatan partisipasi perempuan akar rumput dan kelompok marginal dalam upaya advokasi pengurangan risiko bencana jangka panjang. Hal ini dilakukan melalui pendidikan kritis tentang pentingnya menjaga tanah, air, dan hutan sebagai ruang hidup serta mata pencaharian berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap dampak perubahan iklim.
PERMAMPU menegaskan mitigasi bencana harus menjadi upaya berkelanjutan untuk memastikan keamanan dan ketahanan seluruh dampingan yang berada di wilayah rawan, seperti kawasan cincin api, daerah terdampak deforestasi, serta wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim dan siklon tropis di Sumatera. (hm24)













