Sunday, June 7, 2026
home_banner_first
MEDAN

Keris, Warisan Nusantara dan Simbol Kedaulatan Hingga Cerita Mistis

Mistar.idMinggu, 7 Juni 2026 18.51
RY
RF
keris_warisan_nusantara_dan_simbol_kedaulatan_hingga_cerita_mistis_

Wagubsu Surya didampingi Pj Sekda Sulaiman Harahap saat melihat pameran Keris yang digelar SNKI Sumut (f:ist/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID


Keris dan mistis, adalah dua bagian yang tak terpisahkan. Karena berbicara soal keris, cerita mistis pun pasti melekat di sana. Situasi itu memang berkembang sejak dulu hingga era modern. Tak heran, barang pusaka keris hampir punya cerita dari empu dan tuannya. Berdiri, melayang, hingga menyerang lawan menjadi segelintir mitos yang berkembang sampai sekarang. Cerita paling tersohor adalah malam pergantian Tahun Baru Hijriah (1 Suro) disebut-sebut jadi waktu paling sakral mencuci keris.


Di balik semua mitos itu, tahu kah kalian bagaimana asal usul senjata tajam berliku ini. Di sini Mistar akan menguliknya.

Keris adalah senjata tikam tradisional khas Nusantara yang berasal dari Pulau Jawa. Diperkirakan lahir antara abad ke-9 hingga ke-10, Keris merupakan mahakarya seni tempa logam yang sarat akan nilai filosofis dan spiritual.

Bermula dari syarat upacara, Keris bertransformasi menjadi senjata tikam asimetris yang digunakan masyarakat dulu. Puncaknya di masa Kerajaan Majapahit, Keris menjadi salah satu senjata perang. Datuk hingga Raja dipastikan mempunyai Keris. Bukan hanya pelindung diri, tapi Simbol Kedaulatan.

Tak hanya sang Tuan, si Empu (ahli pembuat keris) juga menjadi sosok yang dihormati karena memampukannya menguasai metalurgi, seni dan strategi perang.

Seiring perkembangan, UNESCO secara resmi menetapkan Keris Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tanggal 25 November 2005.

Ketua Serikat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Sumut, OK Zulfani Anhar, menceritakan bahwa Keris adalah warisan Nusantara yang sudah ada sejak abad ke-7 persisnya di masa kerajaan Sriwijaya.

“Kerajaan Sriwijaya terbentang hingga Semenanjung Malaya dan Thailand. Pusatnya memang di Pulau Sumatera. Namun Vietnam dan Filipina juga menggunakan Keris. Yang pasti Keris berasal dari Asia Tenggara,” ucapnya kepada Mistar, Minggu (7/6/2026).

Nilai spiritual memang melekat pada Keris. Dikatakan OK, beberapa wilayah di Lombok dan Bali, keris juga bisa mewakilkan orang yang berhalangan hadir di suatu acara.

“Sampai sekarang itu masih berlaku di Lombok dan Bali. Keris sering dihadirkan sebagai wakil di acara pernikahan ketika orang yang diundang berhalangan,” katanya.

OK membenarkan jika setiap keris memiliki spiritual tersendiri, khususnya yang digunakan para Ulama dan Raja di masanya.

“Cerita-cerita seperti itu memang ada. Itu hal lumrah, karena Keris kan selalu dibawa tuannya kemana pun pergi. Itu kedaulatan dan perlindungan diri. Secara filosofi, keris menjadi simbol perwujudan spirit pemiliknya,”

Soal cerita mistis keris dan malam 1 Suro, OK menilai arti keris secara harfiah mulai bergeser di era modern.

“Secara fakta itu tidak benar. Keris itu mempunyai nilai lebih karena pemiliknya benar. Keris yang digunakan Ulama, Raja dan Datuk tersohor di masanya tentu punya nilai lebih. Sosok dan historis tidak bisa dipisahkan. Makanya para para kolektor sampai sekarang terus memburunya,” ujarnya. (rahmad)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN