Tuesday, June 23, 2026
home_banner_first
MEDAN

Merawat Warisan Melayu Deli, Disdikbud Medan Gelar Seminar Kebudayaan

Mistar.idKamis, 30 April 2026 pukul 14.20 WIB
merawat_warisan_melayu_deli_disdikbud_medan_gelar_seminar_kebudayaan

Keempat narasumber saat hadir dalam seminar "Merawat Warisan, Menguatkan Identitas, Membangun Peradaban Melayu Deli untuk Generasi Masa Depan". (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Sebagai upaya pelestarian sejarah sekaligus penguatan jati diri budaya lokal, Pemko Medan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menggelar seminar dengan tema “Merawat Warisan, Menguatkan Identitas, Membangun Peradaban Melayu Deli untuk Generasi Masa Depan” di Hotel Dhaksina, Kota Medan.

Kegiatan yang digelar sejak tanggal 27-30 April 2026 itu diikuti sekitar 100 peserta dan menghadirkan 4 narasumber yang sangat kompeten akan Budaya Melayu, yakni Datuk Syalahfatih Ichsan, Datuk Ahmad Fauzi Moeris, Wan Fahrurozi dan Datuq Adil Freddy Haberham.

Kabid Kebudayaan Disdikbud Kota Medan, OK Zulfani Anhar, mengatakan bahwa kebudayaan harus dipandang sebagai ‘cahaya yang hidup’ bukan warisan pasif.

“Untuk itu, identitas Melayu Deli perlu terus dihadirkan dalam konteks modern, baik dalam kebijakan, pendidikan, maupun ruang publik. Apalagi warna Kota Medan adalah Melayu Deli,” katanya kepada Mistar, Kamis (30/4/2026).

Ditegaskannya, seminar ini merupakan pelestarian budaya yang harus menjadi gerakan kolektif antara masyarakat, akademisi dan pemerintah.

“Budaya harus dihidupkan, bukan sekadar dikenang. Generasi muda menjadi kunci keberlanjutan identitas. Sehingga Melayu Deli tidak lagi diposisikan sebagai masa lalu, melainkan sebagai fondasi masa depan. Selama akar budaya dijaga dan warna Melayu Deli tetap menjadi denyut nadi Kota Medan, peradaban akan terus tumbuh - modern tanpa kehilangan jati diri,” ucapnya.

Sebelumnya Datuk Serbanyaman, Datuk Syalahfatih Ichsan, menjelaskan bahwa warisan budaya Melayu memiliki sejarah panjang dan sistem pemerintahan adat yang jelas, kekayaan budaya dalam bentuk seni, bahasa, dan tradisi, serta peran strategis dalam sejarah Melayu Deli.

“Jika kota kehilangan budayanya, maka ia kehilangan jiwanya. Dan jika Medan ingin tetap hidup sebagai kota bersejarah, maka Melayu Deli bukan sekadar masa lalu, melainkan harus menjadi warna masa depan,” ujarnya.

Penegasan lainnya juga disampaikan Datuq Adil Freddy Haberham yang meminta agar kebudayaan Melayu tidak hanya sebagai peninggalan, tetapi sebagai cahaya yang terus dinyalakan.

“Biarlah ia hidup dalam langkah anak-anak yang belajar pantun, dalam suara gendang dan serunai yang menggema di kenduri jamu laut dan jamu bendang, dalam bahasa Melayu yang tetap dilafazkan meski zaman berganti,” tuturnya. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN