Fenomena Lagu ‘Siti Mawarni’, Sosiolog UMSU: Alarm Krisis Sosial di Labuhanbatu

Analis sosial - sosiolog Sumatera Utara, Shohibul Anshor Siregar. (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Lagu ‘Siti Mawarni’ yang viral di media sosial tak sekadar menjadi tren hiburan. Di balik popularitasnya, tersimpan pesan kuat tentang kegelisahan masyarakat terhadap maraknya peredaran narkoba di Labuhanbatu.
Sosiolog dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Shohibul Anshor Siregar, menilai fenomena ini sebagai bentuk perlawanan kultural dari masyarakat akar rumput. Menurutnya, viralnya lagu tersebut mencerminkan adanya sumbatan komunikasi antara warga dan pemangku kebijakan.
“Ketika jalur formal dianggap lamban, seni menjadi medium alternatif untuk menyuarakan realitas sosial yang dirasakan masyarakat,” ucapnya pada Mistar, Kamis (30/4/2026).
Ia menjelaskan, dalam perspektif sosiologi, kemunculan lagu ‘Siti Mawarni’ dapat dipahami sebagai bentuk epistemologi perlawanan. Masyarakat menggunakan narasi musikal untuk menandingi laporan-laporan administratif yang kerap tidak sejalan dengan kondisi di lapangan.
“Lagu ini menjadi alat untuk merebut kembali ruang publik. Di tengah narasi formal pemberantasan narkoba yang cenderung statistik, masyarakat menghadirkan counter-narrative melalui seni yang lebih membumi,” ucapnya.
Lebih jauh, ia menilai resonansi kuat lagu tersebut juga menunjukkan adanya krisis kepercayaan terhadap efektivitas institusi penegak hukum di daerah. Penggunaan simbol lokal dalam lagu memperkuat kedekatan emosional masyarakat sekaligus menegaskan bahwa narkoba telah menjadi ancaman serius bagi tatanan sosial di Labuhanbatu.
“Ini pesan yang sangat jelas bagi aparat dan pemerintah daerah. Ketika masyarakat sudah bersuara melalui simbol-simbol kreatif, itu menandakan kegelisahan kolektif telah mencapai titik jenuh,” tuturnya.
Ia pun mendorong agar pendekatan pemberantasan narkoba tidak hanya bersifat represif, tetapi juga mengedepankan pendekatan kultural dan humanis yang lebih dekat dengan masyarakat.
Meski media digital berhasil mengangkat isu lokal ini ke perhatian publik yang lebih luas, ia mengingatkan agar fenomena tersebut tidak berhenti sebagai tren semata.
“Tantangan berikutnya adalah mengubah resonansi digital ini menjadi aksi nyata yang terstruktur. Harus ada transformasi dari sekadar kesadaran menjadi kebijakan konkret, baik melalui penguatan di tingkat desa maupun kolaborasi lintas sektor,” katanya.
Ia menambahkan, fenomena ‘Siti Mawarni’ kini menjadi pengingat bahwa di balik melodi sederhana, tersimpan suara masyarakat yang merindukan lingkungan yang bersih dari jeratan narkoba. (hm20)
BERITA TERPOPULER
















