Kenaikan Harga Ayam dan Telur Picu Ancaman Program MBG di Medan

Makan Bergizi Gratis di SMK Telkom 1 Medan. (Foto: Susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kenaikan signifikan harga komoditas pangan sumber protein, seperti daging ayam dan telur, belakangan ini dikhawatirkan mengancam keberlangsungan dan kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah. Lonjakan harga ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya biaya input produksi.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Kota Medan, harga daging ayam di Pasar Petisah sudah mencapai Rp40.000 per kilogram (kg).
Sementara itu, harga telur ayam di Medan dijual di kisaran Rp29.900 per kg (sekitar Rp1.868 per butir), dengan rentang harga di pasar antara Rp1.600 hingga Rp2.300 per butir.
“Yang perlu dikhawatirkan dari kenaikan harga komoditas pangan sumber lauk adalah potensi kerugian pada penyelenggara dapur (SPPG) MBG. Kenaikan ini lebih disebabkan oleh biaya input produksi yang melonjak sejak bulan lalu,” kata Gunawan, Rabu (26/11/2025).
Kenaikan harga jagung pipilan, yang kini berada dalam rentang Rp7.200–Rp7.500 per kg, menjadi pemicu utama naiknya biaya produksi daging dan telur ayam. Gunawan memperkirakan harga bahan baku ini berpeluang tetap tinggi hingga kuartal pertama tahun 2026.
Meskipun permintaan daging sapi meningkat 15 persen berkat MBG, harganya masih relatif stabil di rentang Rp125.000–Rp140.000 per kg. Namun, potensi kenaikan tetap ada jika biaya pakan terus meningkat.
Guna meminimalisir dampak kenaikan harga dan menjaga keberlanjutan MBG, Gunawan menyarankan pemerintah melakukan diversifikasi menu lauk.
“Diversifikasi menu MBG harus dilakukan. Jika sebelumnya menggunakan daging ayam, telur ayam, dan daging sapi, kini saatnya mempertimbangkan alternatif lain,” ujarnya.
Beberapa alternatif yang disarankan, meskipun perlu didiskusikan dengan pihak sekolah agar tidak menimbulkan penolakan siswa, antara lain: nugget sebagai menu MBG, olahan telur seperti telur dadar, potongan ukuran lauk yang lebih kecil, serta sumber protein alternatif seperti tahu atau tempe.
“Saya menyarankan agar demand komoditas ditekan, namun pemenuhan standar gizi tetap terpenuhi. Pemerintah harus sigap, mendampingi dapur SPPG, dan memastikan program MBG berjalan tanpa keluhan masyarakat maupun siswa,” kata Gunawan. (hm27)






















