Kasus Perundungan Murid SD di Medan, Pengamat Tekankan Peran Orang Tua dan Sekolah

Pengamat sosial dari USU, Dr. Agus Suriadi. (foto: Ari/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Kasus dugaan perundungan (bullying) baru-baru ini terjadi di Medan. Korban seorang murid kelas 6 SD, sementara pelaku merupakan teman-teman sebayanya. Mirisnya lagi, salah satu dari orang tua terduga pelaku disebut mengancam akan menabrak korban menggunakan becak motor.
Pengamat sosial dari Universitas Sumatera Utara, Dr. Agus Suriadi, mengatakan kasus-kasus perundungan yang terjadi di kalangan anak-anak seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan juga lingkungan.
Menurutnya, anak-anak sering meniru perilaku yang dilihat di rumah. “Jika orang tua atau anggota keluarga lainnya menunjukkan perilaku agresif atau intoleran, anak-anak mungkin menganggapnya sebagai cara yang dapat diterima untuk berinteraksi dengan orang lain,” kata Dosen prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial USU itu, Sabtu (3/10/2026).
Kemudian, anak-anak sering berusaha untuk diterima di lingkungan teman sebayanya. Dalam beberapa kasus, kata dia, anak-anak mungkin berpartisipasi dalam perilaku bullying untuk mendapatkan status atau pengakuan dari kelompok.
Selain itu, paparan media yang menggambarkan kekerasan atau perilaku agresif sebagai hal yang keren atau mengesankan, juga dapat berpengaruh pada cara anak berinteraksi dengan orang lain.
Ia menyebutkan, anak-anak yang mengalami stres di rumah atau sekolah mungkin mengekspresikan ketidakpuasan mereka melalui perilaku agresif.
Untuk mencegah perilaku yang mengarah pada perundungan, Wakil Dekan I FISIP USU itu mengatakan bahwa selain orang tua, sekolah juga memiliki peran penting dalam membentuk perilaku sosial positif anak.
Beberapa langkah yang dapat diambil di antaranya mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum untuk mengajarkan empati, toleransi dan menghormati perbedaan.
“Menerapkan program yang secara khusus ditujukan untuk mencegah bullying, termasuk pelatihan untuk guru dan staf tentang cara mengenali dan menangani situasi bullying,” tuturnya.
Sekolah juga dituntut untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif, di mana semua siswa merasa dihargai dan didengar. Tak hanya itu, kolaborasi antara sekolah dan orang tua juga dinilai penting.
Orang tua perlu diajak berpartisipasi dalam kegiatan sekolah dan program pendidikan, serta memberikan informasi tentang cara mendukung anak-anak dalam pengembangan perilaku sosial yang baik.
“Sekolah juga perlu mengajarkan keterampilan sosial dan emosional kepada siswa, termasuk cara menyelesaikan konflik dan berkomunikasi dengan baik,” ucapnya.
Agus mengatakan dengan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif, sekolah dapat membantu mencegah perilaku bullying dan membentuk generasi yang lebih empatik dan saling menghormati.

















































