Friday, June 5, 2026
home_banner_first
KULINER

Aroma Briyani dari Masjid Tua: Tradisi Berbuka Khas India Sejak 1960-an

Mistar.idMinggu, 1 Maret 2026 12.59
EH
AS
aroma_briyani_dari_masjid_tua_tradisi_berbuka_khas_india_sejak_1960an

Pengurus memasak bubur untuk hidangan berbuka puasa di Masjid Ghaudiyah. (Foto: Adi Syahputra/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Senja belum benar-benar turun ketika aroma rempah mulai menyebar dari dapur tua di sudut Masjid Ghaudiyah. Wangi kapulaga, cengkeh, kayu manis, dan kari kambing menyatu di udara, menyelinap ke gang-gang kecil, di kawasan Kampung Madras, memanggil siapa saja yang melintas.

Di sinilah, tradisi berbuka puasa dengan hidangan khas India Selatan terus hidup, bahkan sejak sebelum banyak jamaah hari ini lahir ke dunia.

“Bubur itu sudah mulai sejak tahun 1960. Bahkan sebelum saya lahir. Kalau nasi briyani masih baru-baru aja," ucap H Muhammad Siddik Saleh sambil tersenyum mengingat masa lalu.

Dijelaskan Ketua Yayasan India Muslim Selatan Sumatra Utara itu, dulu bangunan masjid belum seperti sekarang. Saat masih terdapat ruang terbuka di lantai bawah masjid, di ruang terbuka itulah, bubur dimasak dalam kuali besar menggunakan kayu bakar.

"Kalau nasi briyani atau kari kambing lagi dimasak, aromanya bisa tercium sampai satu kampung," tuturnya.

Tradisi itu tak pernah terputus di bawah Yayasan Muslim Selatan Sumatra Utara. Dari dekade ke dekade, dari nama yayasan memakai Bahasa Inggris hingga menjadi Bahasa Indonesia, dapur masjid tetap mengepul setiap Ramadan.

Diungkapkan Siddik, Jika hari biasa hanya bubur dan chai yang dibagikan, maka hari minggu menjadi istimewa. Kari kambing dan nasi briyani menjadi magnet utama.

“Kalau hari biasa, dana habis sekitar Rp5-6 juta per hari. Tapi kalau Minggu bisa sampai Rp10 juta. Karena kari kambing sama nasi briyani,” katanya.

Briyani, menurutnya, adalah makanan termewah di dunia dalam bentuk nasi. Ia bercerita, dahulu di India, briyani hanya disajikan untuk kalangan raja, bahkan disebut menjadi salah satu menu pada masa pembangunan Taj Mahal.

Kini, di masjid ini Ghaudiyah, briyani dimasak dengan 30 kg daging kambing dan 40 kg beras. Hasilnya cukup untuk 300 hingga 400 orang setiap harinya dan selalu ludes.

“Kadang sampai 400-500 orang. Kalau kurang, pengurus yang tidak makan. Kita bikin nasi bungkus untuk jamaah. Yang datang ini luar biasa, ada yang dari Perbaungan, dari Belawan, dari Medan ini juga banyak, mereka bawa teman,” bebernya.

Bahkan kuah kari yang tersisa pun tetap diburu jamaah.

“Daging habis, kuah pun jadi. Orang bilang, Kuah pun bungkus saja, Pak. Kalau buat sahur, dipanasi, tambah telur, enaknya luar biasa,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Siddik merasakan jika Ramadan tahun ini terasa lebih ramai. Ia mengaku tak menyangka antusiasme masyarakat begitu besar. Selain dari mulut ke mulut, pemberitaan media juga membuat banyak orang datang.

Namun bagi pengurus, yang terpenting bukanlah jumlah, melainkan menjaga cita rasa yang konsisten sejak 1960-an.

“Dari dulu sampai sekarang, rasanya harus sama. Orang makan harus rasakan yang benar-benar,” katanya.

Di antara denting sendok dan suara azan yang bersiap berkumandang, masjid tua ini tak hanya menjadi tempat ibadah. Ia juga menjadi ruang pertemuan budaya, sejarah, dan rasa. Tempat briyani yang dulu milik raja, kini hangat di tangan jamaah berbuka puasa. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN