Friday, June 5, 2026
home_banner_first
KULINER

Arem-Arem Jawa Jadi Takjil Favorit di Medan, Dian Jual 150 Bungkus per Hari

Mistar.idJumat, 27 Februari 2026 18.17
journalist-avatar-top
RF
aremarem_jawa_jadi_takjil_favorit_di_medan_dian_jual_150_bungkus_per_hari

Dian Septiana Sari memperlihatkan dagangan Arem-Arem yang dijualnya. Makanan khas pulau Jawa tersebut dijualnya dan dapat ditemukan di Komplek Tasbi, Jalan Setia Budi Medan. (Foto: Iqbal/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Bicara soal menu berbuka puasa atau takjil seakan tidak ada habisnya. Mulai dari makanan modern hingga khas daerah tersaji hampir di seluruh sudut jalan. Salah satunya adalah arem-arem, makanan berbahan dasar nasi yang dibungkus kecil lengkap dengan lauk di dalamnya.

Dian Septiana Sari telah berjualan arem-arem di Kota Medan sejak 2022. Momen Ramadan pun dimanfaatkannya untuk menjajakan makanan asal Jawa tersebut sebagai menu berbuka puasa.

“Arem-arem ini sebenarnya bukan makanan khas Medan, melainkan dari Pulau Jawa. Di Jawa Tengah atau Yogyakarta dikenal dengan sebutan arem-arem, sementara di Jakarta orang lebih mengenalnya sebagai lontong isi,” ujarnya kepada Mistar, Jumat (27/2/2026).

Dian menjelaskan, arem-arem mirip dengan makanan yang lebih familiar di masyarakat, yakni lemper. Namun, perbedaannya terletak pada bahan utama dan isiannya.

“Arem-arem ini isinya nasi yang sudah dimasak dengan santan dan kaldu, lalu diberi isian seperti ayam sambal, ayam cabai hijau, dan lainnya. Cara memasaknya direbus, bukan dibakar,” ucapnya sembari memperlihatkan dagangannya di Komplek Tasbi Medan.

Meski tidak dikhususkan sebagai menu Ramadan, menurut Dian, arem-arem sangat cocok dikonsumsi saat berbuka puasa. Porsinya yang sekitar 150 gram membuat perut tidak cepat terasa begah.

“Ini cocok untuk buka puasa karena bungkusannya kecil dan sudah ada lauk di dalamnya. Kadang orang tidak bisa langsung makan berat saat berbuka, tapi ingin makan nasi. Arem-arem ini bisa jadi solusi,” ujarnya.

Dalam beberapa kondisi, arem-arem juga cocok dikonsumsi oleh orang yang sedang diet, pekerja, maupun masyarakat yang sedang dalam perjalanan karena praktis.

“Untuk orang diet juga cocok. Kemudian bagi pekerja yang harus berbuka di jalan, ini praktis karena bisa dimakan di mobil atau di mana saja,” kata wanita asal Jawa Timur tersebut.

Dian mengaku telah memodifikasi arem-arem sejak berjualan di Medan. Ia menyadari selera masyarakat Medan berbeda dengan daerah asalnya. Saat ini, ia menjual arem-arem seharga Rp7 ribu per bungkus.

“Di Jawa, arem-arem biasanya dikenal dengan isian rempelo sambal. Namun karena di Medan seleranya berbeda, kami menyesuaikan dengan menu yang lebih familiar di sini,” ujarnya.

Tak hanya berjualan secara langsung, Dian kini juga memasarkan dagangannya secara daring. Banyaknya perantau di Kota Medan membuatnya semakin optimistis menjalankan usaha tersebut.

“Saya jualan sejak 2022. Menurut saya, di Medan ini banyak perantau. Biasanya perantau itu butuh makanan yang mengingatkan pada kampung halaman,” katanya.

Saat ini, Dian mengaku mampu menjual sekitar 120 hingga 150 bungkus per hari. Di luar Ramadan, ia mulai berjualan sejak pagi hari karena arem-arem juga cocok dijadikan menu sarapan.

“Kalau tidak puasa, saya jualan dari pagi karena arem-arem ini juga cocok untuk sarapan. Sehari bisa habis 120 sampai 150 bungkus,” tuturnya.

Meski tidak sefamiliar makanan khas Sumatera, arem-arem di Kota Medan tetap memiliki penikmat setia. Dian menyebut banyak perantau asal Jawa yang bekerja di Medan memesan arem-arem untuk mengobati kerinduan pada kampung halaman.

“Biasanya orang yang pernah tinggal di Jawa seperti Jakarta atau Jogja pasti tahu arem-arem. Di sini juga banyak pekerja kantoran yang merantau, mereka sering memesan karena kangen masakan daerah asalnya,” pungkasnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN